Shabana, Sosok Komandan di Balik Aksi Mogok Makan “Karamah I”

Category: Berita 44 0

Kispa.Org ( A-Quds) Ketika usianya 16 tahun, ia ya tidak bisa/dilarang bertemu ibunya ketika wafat karena dipenjara. Penjara juga menghalanginya untuk menyempurnakan kegembiraannya pada saat dia melamar istrinya karena dia harus kembali dipenjara setelah 6 tahun kemudian.

Mahmud Shabana adalah komandan tawanan dari gerakan Perlawanan Islami Hamas di penjara Israel dan mewakili gerakan tersebut. Ia juga yang mengomandoi aksi mogok makan yang dilakukan oleh tawanan administratif yang berlangsung 61 hari yang dikenal pada saat itu sebagai “Aksi Mogok Makan Karomah 1”.

Dia juga perunding dari Gerakan Tawanan menghadapi dinas penjara Israel. Ia dikenal cerdas, wawasannya yang luas terutama terkait dengan urusan zionisme. Dia berbicara dengan bahasa Ibrani dengan lancar serta menghafal Al-Quran seluruhnya 30 juz.

Mahmud Hamdi Sabana nama lengkapnya. Dia dilahirkan di Hebron 28 Maret 1973 di tengah keluarga agamis dan pejuang yang dikenal memiliki kecintaan terhadap negerinya dan berafiliasi afiliasi dengan kuat. Ia belajar di Universitas Al-Quds Terbuka jurusan pendidikan Islam akan tetapi ia tidak sampai lulus karena ditahan oleh Israel. Inilah yang kemudian mendorong mendorongnya untuk mendaftarkan diri Universitas Israel dari balik penjara untuk memperoleh ijazah S1 jurusan dalam bahasa Ibrani.

Dari balik penjara dia mulai melakukan penelitian terkait dengan entitas penjajah ini dari sejarah yang dimanipulasi Israel dan fakta-fakta yang dibuat oleh Israel serta kebiasaan-kebiasaan rasis yang mereka buat. Sehingga ia menjadi pakar dalam urusan Israel.

Shabana menjadi ketua biro Fraksi Perubahan dan Reformasi di Hebron setelah Hamas menang dalam pemilu 2006 akan tetapi biru ini kemudian ditutup.

Ditahan Sejak Kecil

Orang tua Shabana, Haji Hamdi Shabana menyatakan perjalanan Mahmud dipenjara dimulai sejak 8 Agustus 1989. Ia ditangkap pasukan Israel dan dijebloskan di dalam penjara selama 4 bulan setengah dengan tudingan melakukan tindakan anti penjajah pada saat itu ia masih berusia 16 tahun.

Setelah itu dibebaskan oleh Israel dan kembali ditangkap pada 15 Desember 1990 dan dihukum penjara 3 bulan setengah. Rentetan penahanan ini tidak berhenti sampai akhirnya kembali ditahan oleh Israel pada 9 Januari 1993 Israel memvonisnya dengan hukuman 10 bulan penjara.

Haji Hamdi “Abu Mahmud” menegaskan dalam wawancaranya dengan Pusat Informasi Palestina penangkapan beruntun yang dilakukan Israel terhadap Shabana ini menunjukkan dia tidak pernah istirahat dan tidak pernah tenang. Kelelahan yang dialami ini akan berakhir dengan pembebasan berikutnya dengan izin Allah.

Menikah dari Balik Penjara

Mahmud sabana menikah pada tahun 1994 dengan seorang guru amal Abu Haikal dari Hebron saat ia dalam penjara. Pada saat melamar, Shabanah masih belum ditahan. Namun setelah itu ia ditahan. Istrinya Ummu Hamdi menceritakan, “Ia melamar saya saat masih muda dan saya tahu ia ditangkap berkali-kali oleh Israel. saya tahu pemuda agamis dan memiliki tanggungjawab besar dalam agama dan nasional. Saya menyetujui lamarannya. Saat kami mempersiapkan pernikahan, pagi harinya Israel menangkap Shabanah.”

Israel menahan Shabanah 5 tahun. Namun saat itu ia tetap komitmen menunggu Shabana. Setelah dibebaskan, ia menikah dan memiliki tiga anak. Total Shabana ditahan di penjara Israel selama 16 tahun dan hanya bisa menikmati hidup bersama anak-anak beberapa bulan.

Mogok Makan

Mahmud Shabana mulai mogok makan pada 24 Mei 2014 dan pernah dipindahkan ke RS Hashomer dan kehilangan berat badanya hingga 20 kg.

Shabana memiliki perang inti sebagai komandan mogok makan di penjara Israel dan pernah mogok makan hingga 63 hari. Ia pun harus rela menerima sejumlah sanksi dari Israel.

Saat tahun 2010 di penjara, ia pernah dioperasi karena tidak bisa bicara selama 3 bulan karena benda asing di bagian pita suara. (aaa/infopalestina)

Related Articles

Add Comment