Profesi Nelayan di Gaza, Keluar Rumah Bisa Tak Kembali Selamanya

Category: Berita 17 0

kispa.org – Pemuda Ibrahim Amudi (27) memutuskan untuk menjadi nelayan mengikuti orang tuanya dan kakeknya, meski ia lulusan S1 jurusan manajemen bisnis. Tapi itulah hidup di Gaza yang serba sulit.

Sore hari Ibrahim mulai menyiapkan alat-alatnya dari jaring dan lainnya untuk melakukan “perjalanan” menuju nasib yang tidak jelas.

Kondisi ekononomi sulit dan tidak adanya peluang kerja memaksa saya mengikuti jejak ayah untuk memenuhi kebutuhan keluarga, itulah kata-kata ringkas Ibrahim kepada Pusat Informasi Palestina terkait profesinya.

Dibunuh Israel atau Ditangkap

Di kapal kecilnya, yang ditemani saudara dan keponakannya, mereka mulai terjun melanglang laut luas penuh risiko bahaya dari kepal perang zionis Israel. Ibrahim Amudi yang memiliki dua anak menceritakan kisah deritanya menghadapi kapal perang Israel. “Tiap hari kami terbiasa ditembaki kapal perang Israel, bahkan tak jarang jaring-jaring dan jala kami serta alat menangkap ikan disita Israel.” kisahnya.

Ia menyatakan, tindakan kekerasan Israel itu dilakukan tanpa peringatan dini. Tiba-tiba ditangkap dan dipukili atau ditembak di tengah laut atau dirusak alat-alat kami, tegasnya Amudi.

Namun demikian, tak banyak pilihan bagi warga Jalur Gaza. Mereka tetap harus bekerja. Nelayan Khumsaini Mahmud Hanawi misalnya, tetap harus menjadi nelayan agar anaknya bisa hidup, tegasnya.

Hanawi menyinggung, alat nelayannya pernah disita oleh pasukan marinir Israel saat di tengah laut. Menurutnya, Israel sengaja melakukan berbagai kekerasan terhadap nelayan Gaza untuk mengekang sumber rizki mereka dengan berbagai cara.

Nelayan Gaza lainnya, Khalid Liham yang mengaku tiga kali alat menangkap ikannya disita Israel dan pernah ditembak, menyatakan kekecewaannya atas tindakan penjajah dan meminta lembaga internasional agar menekan Israel menghentikan kekerasannya terhadap nelayan Gaza.

Sejak tiga bulan saya tidak pernah pernah bisa menjalankan perahu nelayannya ke laut karena ikan sangat sedikit.

Krisis Semakin Parah

Sementara itu, Fuad Amudi, ketua asosiasi nelayan di Khan Yunis, Jalur Gaza bagian selatan menyatakan, krisis nelayan di Jalur Gaza makin parah dari hari ke hari. Bahkan bisa mengancam nyawa mereka. Karena kepal perang Israel mengejar-ngejar mereka.

Ia menceritakan kepada Pusat Informasi Palestina, tindakan kekerasan Israel terhadap nelayan Gaza di antaranya; penutupan dan pengepungan wilayah laut, menyerang tiba-tiba, menangkap, memukuli, menembak, merusak alat penangkapan ikan dan lainnya, dan menyita perahu mereka.

Di sebagian area, Israel mengizinkan radius hingga jarak 9 mil dan wilayah lain hanya 6 mil. Ia meminta kepada lembaga internasional agar bertindak membela hak nelayan Gaza.

Jumlah nelayan di Khan Yunis mencapai 750 orang dari 4000 orang seluruh nelayan di Jalur Gaza. (mrr/infopalestina)

Related Articles

Add Comment