Jelang Idul Kurban, Zionis Rampas Hewan Ternak Warga Palestina

Category: Berita 13 0

kispa.org – Beberapa tahun terakhir, penjajah Israel membuat kebijakan politik penyitaan hewan ternak dan alat pertanian milik warga Palestina sebagai bentuk sanksi massal.

Untuk membebaskan kembali barang dan hewan ternak yang disita, pemerintah penjajah Israel menerapkan syarat yang tidak mungkin dipenuhi warga Palestina. Mereka membatasi waktu pengembalian dengan syarat dan jika melewati batas, hewan ternak dan alat itu akan dilelang di pasar.

Wilayah Aghwar merupakan wilayah paling banyak dirugikan akibat politik rasis Israel ini. Ratusan binatang ternak dengan berbagai jenisnya dan alat pertanian disita. Peternak Palestina pun ditimpa kerugian besar.

Dilansir dari Pusat Informasi Palestina, Ketua Dewan Desa di Wadi Malih di wilayah Aghwar, Arif Daragimah menegaskan, pemerintah penjajah Israel memulai politik keji ini sejak 4 tahun lalu. Terkadang Israel beralasan ternak mereka masuk ke wilayah militer Israel atau ke wilayah zona “hijau” yang biasa digunakan Israel sebagai wilayah latihan militer.

Daragimah mengungkap, selama tiga tahun terakhir Israel sudah menyita dan merampas 80 sapi, 25 keledai, dan 100 ekor kambing, 30 traktor pertanian, dan 11 kendaraan pengangkut di Desa Wadi Malih serta 30 pengakut air.

Penjajah Israel menerapkan denda tinggi agar barang-barang dan ternak yang disita dikembalikan, sebagian besar warga akhirnya tidak mau berusaha agar hak mereka kembali. Misalnya, denda mengembalikan keledai adalah 2000 shekel. Ini cukup tinggi bagi warga miskin.

Daragimah sendiri pernah menjadi korban. Sapinya disita Israel dan dituntut pengadilan Israel denda sebesar 4000 shekel jika ingin mengembalikan. Warga yang sekampung tidak jauh beda. Pihak Israel sering mengumumkan lelang binatang ternak atau alat pertanian.

Sayangnya, menurut Daragimah, pihak Otoritas Palestina atau lembaga hukum tak pernah menempuh langkah hukum untuk menghentikan prosedur kejam Israel ini dan mengembalikan hak warga Palestina yang terampas.

Muhammad Abu Awad, warga wilayah desa Wadi Malih misalnya, alat pengangkut air disita Israel menyatakan, “Kami warga rugi besar namun tak ada yang membela kami. Kalau menempuh jalur hukum, kami harus membayar lawyer dan kemudian denda.”

Eyad Daragimah, warga kampung Der di Aghwar menyatakan, alat pengangkut air juga disita Israel. “Israel berusaha mengusir kami dari kampung kami dengan cara menyita ternak dan alat-alat pertanian kami agar kami gak betah di sini. Namun Israel tak tahun betapa besar kecintaan kami kepada tanah air kami. Beberapa tahun lalu, Israel mencuri kambing kami dan saudara kami. Kami tak bisa mengambil kembali karena dendanya tinggi”. (mrr/suaraislam)

Related Articles

Add Comment