Habisnya Mimpi Negara Palestina dengan Permukiman Yahudi

Category: Berita 55 0

Kispa.Org ( Dr. Khalid Maali )

Barangkali ada yang keberatan jika dikatakan; bahwa permukiman Yahudi telah mengakhiri mimpi negara merdeka secara final. Keberatan karena memang benar-benar kehilangan harapan akan negara Palestina yang diidam-idamkan.

Ingatkah kalian janji mendiringkan negara Palestina di awal Kesepakatan Oslo 23 tahun lalu? Dan bahwa Tepi Barat akan berubah menjadi Singapura Arab? Namun tiba-tiba Tepi Barat berubah menjadi hutan bagi permukiman Yahudi, jalan pintas, tugu-tugu militer pengawas, kamera CCTV, barak militer dimana, menjadi target penggusuran, penangkapan dan penyitaan setiap jam dan setiap waktu.

Mungkin ada yang membantah bahwa statemen di atas menumpulkan tekad, alih-alih mengasah asa dan cita-cita dan kerja serta usaha mendirikan negara Palestina. Namun lihatlah Tepi Barat dan Al-Quds (yang dijajah Israel tahun 1967), 60% lebih wilayah Al-Quds dikuasai oleh warga pemukim Yahudi, 70% dari wilayah Salfit dalam kekuasaan pemukim Yahudi, Tepi Barat berubah menjadi 4 kantung terpisah-pisah akibat permukiman yahudi.

Kebohongan-kebohongan Lierberman dab Netanyahu tidak akan meyakinkan siapapun; bahwa yahudi berhak membangun permukiman di wilayah yang mereka anggap bagian dari tanah Israel yang ditegaskan dalam Taurat dengan sebutan Jodia dan Samira. Mereka berusaha kembali ke sejarah untuk membenarkan penjajahan mereka terhadap Palestina. Keputusan UNESCO terakhir telah membongkar kedok kebohongan mereka dengan terang benderngan. Inilah yang membuat Netanyahu murka karena ingin melakukan penjajahan dengan harga murah yang didukung oleh resolusi dan keputusan dunia internasional.

Sudah menjadi rutinitas, media massa Israel menyebar berita baru penggusuran-penggusuran baru di seluruh wilayah Tepi Barat dengan alasan darurat keamanan atau karena itu tanah negara atau tanah yang dijual semuanya adalah alasan batil yang tidak diakui oleh hukum internasional.

Permukiman Yahudi telah menghabiskan energi dan menghabisi seluruh sendi-sendi kehidupan di Tepi Barat, menghancurkan pertanian Palestina, ekonomi, keamanan dan kebabasan. Yang tersisa hanya buruh Palestina yang bekerja di permukiman-permukiman atau di wilayah Palestina jajahan Israel tahun 1948. Israel ingin Palestina menjadi budak namun dengan model lebih modern.

Keputusan UNESCO tak akan menyurutkan Netanyahu menggusur lebih banyak tanah Palestina dan memperluas permukiman. Sebab resolusi itu biasa tidak diikuti oleh realisasi yang jelas yang bisa menekan dan menghardik serta menakuti Israel. Bahkan terkadang tidak akan ditindak lanjuti oleh pihak Palestina resmi dan Arab sebagaimana keputusan Mahkamah Den Haag terkait tembok rasial Israel sebagai tembok rasis yang harus dihilangkan.

Pembangunan permukiman yahudi di Palestina yang terus berlanjut adalah deklarasi perang terhadap undang-undang internasional. Mengurang habis SDA dan SDM bangsa Palestina, menciptakan status quo baru yang berpihak kepada Israel.

Hukum internasional menjelaskan, wilayah Palestina yang dijajah tahun 1967 adalah tanah jajahan yang tidak boleh dibangun permukiman yahudi di sana. Ini yang tidak diakui Israel secara resmi karena menggunakan logika kekuatan dan terorisme. masyarakat internasional tidak menekan dan tidak menjalankan kewajibannya yang riil memaksa Israel menghentikan permukiman, kecuali hanya melalui resolusi formalitas untuk menghindar dari kecaman dari Arab, Palestina dan negara-negara Islam.

Di tengah tindakan Israel penjajah mengingkari hak-hak Palestina, maka tidak layak mengadopsi program dan metode dimana waktu telah membuktikan bahwa itu tidak efektif dalam bertindak dan berinteraksi kepada Israel. Harus ada jalan dan program lain yang lebih modern dan kuat serta “menyakitkan” Israel. Jika tidak maka usaha Palestina hanya sia-sia.

Benar, besok akan hilang permukiman dan penjajahan Israel yang kejam. Ini logika dan hukum sejarah. Namun hingga waktu itu terwujud, semua energi kreatif harus dikerahkan untuk meraih kemerdekaan itu. Perbedaan tidak prinsip tentu harus dikesampingkan oleh Palestina. Sebab masalah utamanya adalah di penjajah. (aaa/infopaplestina)

Related Articles

Add Comment