Kiswani: Politik Baru Israel di Al-Aqsha Pasca Resolusi UNESCO

Category: Berita 34 0

Kispa.Org – Ketua Masjid Al-Aqsha, Syekh Umar Al-Kiswani mengungkap adanya politik zionis Israel yang baru terhadap masjid Al-Aqsha sejak akhir Desember lalu dan awal tahun 2017 dengan mengizinkan warga yahudi Haradem dan yahudi yang mengenakan pakaian hitam untuk melakukan ritual Talmud saat menggerebek Masjid Al-Aqsha. Sementara politik mengabaikan pelanggaran itu.

Dalam wawancaranya dengan Pusat Informasi Palestina, Al-Kiswani menegaskan, pemerintah zionis dengan perangkat intelijen dan polisinya mulai menggelar politik  baru terhadap masjid Al-Aqsha sejak resolusi UNESCO terakhir yang menegaskan kemurnian masjid itu milik umat Islam dan tak ada kaitan dengan yahudi. Lembaga-lembaga resmi Israel bersama lembaga-lembaga permukiman pembela mitos Kuil Solomon Temple melakukan penggerebekan massif dan pelanggaran terhadap Al-Aqsha dengan melakukan ritual di sana.

Situasi Makin Buruk

Kiswani menambahkan, ada unsur-unsur warga permukiman Israel dan kelompok agama tidak ikut dalam penggerebekan ke Al-Aqsha seperti Shahoradem yang berseragam hitam. Namun setelah keputusan UNESCO, kelompok tersebut ikut melakukan penggerebekan dan ritual Talmud dengan cara menangis, merobek pakaian, masuk dengan telanjang kaki, keluar dengan punggung dan wajah mereka ke Kubah Sakhrah dari gerbang Silsilah.

Kiswani menjelaskan, setelah polisi Israel melindungi mereka dengan alasan mereka pengunjung padahal bukan. Warga Yahudi itu menggerebek masjid dan menunaikan ritual Talmud berbeda dengan klaim polisi dan komandannya yang mengawal warga Yahudi menggerebek. Akibat pelanggaran ini situasi ketegangan semakin kuat.

Ketua masjid Al-Aqsha ini mengatakan, “Kami melihat ada keputusan Israel secara nyata yang diterapkan di masjid Al-Aqsha yang menantang resolusi PBB dan UNESCO yang didorong dan disemangati secara resmi oleh Israel kepada lembaga-lembaga resmi dan warga yahudi Shahorem untuk menunaikan ritual talmud dalam penggerebekan tersebut. Ini sangat berbahaya jika dibiarkan.”

Al-Kiswani mengisyaratkan, penggerebekan warga yahudi ekstrim ini kemarin Ahad merupakan puncak dari pelanggaran sebab sebanyak 35 warga yahudi menggerebek pada pagi hari dan 20 orang pada saat shalat dhuhur sebagian besar mereka mengenakan pakaian hitam gelap. Dalam aksinya, Israel melakukan tindakan provokasi terhadap jamaah shalat. Saat berdiri di halaman musola Marwani, mereka menggelar ritual menghadap kubah Shakhrah, mereka mengusap-usapnya dan berkeliling dengan cara provokasi. Saat keluar dari gerbang Silsilah, sebanyak 4 orang warga yahudi sengaja hysteria.

Sudah Dirancang

Kiswani menyatakan, tenaga security dan pengawal penggerebakan ke masjid Al-Aqsha adalah kelompok yahudi ekstrim berjumlah 15 an orang yang mereka adalah kelompok yang sama dalam aksi penggerebekan.

Kiswani menambahkan, polisi Israel yang berpos di gerbang-gerbang masjid Al-Aqsha masih berjaga ketat dan memperiksa secara ketat terhadap masuknya jamaah shalat di Al-Aqsha. Identitas mereka diperiksa dan ditahan. Namun warga Al-Quds dan Palestina 1948 berduyun-duyun mendatangi masjid Al-Aqsha dan menyebar di halaman-halamannya, menimba ilmu dan menghadang penggerebekan warga pemukim Yahudi dengan penuh kesabaran dan semangat. (aaa/infopalestina)

Related Articles

Add Comment