Apa yang Terjadi di Kampung Silwan yang Berdekatan dengan al-Aqsha?

Category: Berita 17 0

-911023614Kispa,org – Al-Quds – Pusat Informasi Palestina:
Aktivis politik dan peneliti spesialis urusan al-Quds, Fakhri Abu Diyab, mengatakan bahwa kampung Silwan yang berdekatan dengan masjid al-Aqsha mengalami operasi yahudisasi Zionis paling luas akibat penghancuran rumah-rumah warga Palestina dan pengusiran mereka dari kampung tersebut.
Abu Diyab menyatakan bahwa tindakan penjajah Zionis yang paling berbahaya adalah memaksa warga kampung Silwan melalui pengadilan atau instruksi pemerintah kota untuk menghancurkan rumah-rumah mereka sendiri dengan dalih tidak ada izin pembangunan selama waktu tertentu.
Dia menambahkan, “Bila tidak dilakukan proses penghancuran rumah-rumah oleh pemiliknya sendiri, maka pemerintah kota yang menghancurkan rumah-rumah tersebut dan pemiliknya harus membayar biasa sangat besar antara 80-100 ribu shekel (20/25 ribu dolar).
Abu Diyab mengecam cara yang digunakan penjajah Zionis dalam menghadapi warga Palestina ini. Dia mempertanyakan, “Bagaimana seorang warga Palestina membangun rumahnya bertahun-tahun agar menghancurkannya dengan tangannya sendiri. Penghancuran rumah bukan saja menghancurkan tembok rumah saja, namun menghancurkan masa depan seluruh keluarga dan mencera beraikannya.”
Diperkirakan jumlah pemukim pendatang Yahudi di tahun 2011 di kampung Silwan sekitar 350 pemukim yang tinggal di 18 bangunan. Jumlah ini bertambah secara signifikan bersamaan dengan penguasaan 33 flat lain pada tahun 2014 oleh para pemukim Yahudi.
Pemerintah sipil penjajah Zionis di al-Quds memberlakukan pembatasan ketat pembangunan di Silwan sehingga warga Palestina hanya memiliki dua pilihan: membangun tanpa izin atau tinggal di perkampungan yang sangat padat. Pilihan pertama beresiko penghancuran rumah oleh pihak Zionis dengan dalih tidak berizin atau dalam kondisi yang lebih baik adalah pembebasan denda yang sangat besar pada pemilik rumah.
Abu Diyab dan juga warga Silwan menyatakan marah terhadap tindakan penjajah Zionis ini, karena menolak memberikan izin pembangunan baru atau membangun kembali bangunan rumah mereka yang dihancurkan.
Dia mengatakan, “Tidak ada yang mendukung warga kampung Silwan yang rumah-rumah mereka dihancurkan. Tidak oleh institusi-institusi resmi Arab atau Islam, sementara mereka menghadapi infiltasi permukiman Yahudi sendirian.”
Meski demikian, Abu Diyab mengisyaratkan semangat tinggi warga Silwan. Apa yang dilakukan warga kampung Silwan adalah pajak yang dibayar seorang warga al-Quds dalam rangka untuk terus berjuang, tetap teguh dan bersiaga di kota al-Quds, dan demi menggagalkan rencana-rencana yahudisasi yang terjadi terhadap kampung tersebut.
Abu Diyab menjelaskan bahwa kampung Silwan terkenal dengan mata airnya. Ada banyak sumber mata air di kampung ini. Selain terowongan yang digali di era Kan’an, Bizantium, Romawi dan era Islam yang memanjang dari kampung Silwan ke Kota Tua dan masjid al-Aqsha.
Siang malam penjajah Zionis memanfaatkan terowongan-terowongan tersebut untuk masuk ke bawah masjid al-Aqsha. Dia menjelaskan bahwa penjajah Zionis juga melakukan proses pemalsuan sejak bertahun-tahun lamanya terhadap kampung Silwan, yang mencakup peninggalan Romawi, Bizantium, Kan’an dan Islam, untuk dijadikan sebagai peninggalan peradaban Yahudi sesuai dengan klaim mereka.
Abu Diyab menjelaskan bahwa penjajah Zionis berupaya mengklaim bahwa kampung Silwan adalah awal negara Yahudi pertama dan mereka sebut dengan kota “King David”. Dia menegaskan bahwa ini adalah klaim dusta dan bohong dan tidak ada buktinya sampai dalam penggalian yang dilakukan penjajah Zionis di Silwan selama puluhan tahun dan belum juga terbukti secara historis dan ilmiyah. Karena itu mereka berusaha menguasai kembali kampung ini.
Warga Silwan mengalami bahaya pengusiran secara kontinyu dari rumah-rumah mereka. Dalam mewujudkan hal itu Otoritas penjajah Zionis menggunakan UU “Kepemilikan Absensia” (properti yang ditinggalkan pemiliknya) yang dibuat dengan tujuan untuk mencegah para pengungsi Palestina kembali ke rumah-rumah yang mereka diusir dari sana pada tahun 1948. Sejak tahun 2004 otoritas penjajah Zionis memberlakukan UU ini dengan tujuan untuk menguasai rumah-rumah Palestina di al-Quds yang kepemilikannya dimiliki oleh orang-orang yang sudah dicabut kartu identitas tinggalnya. (was/pip/aa)

Related Articles

Add Comment