Jika peduli dengan perdamaian, kita harus berdialog dengan Hamas

Category: Berita 25 0

Kispa.Org – Negara-negara Barat memiliki kesempatan unik untuk membantu mengakhiri perdamaian yang buntu di Gaza. Tapi kita lebih senang tutup mata atas keadaan yang terjadi. Di rumahnya di Jalur Gaza bulan lalu, seorang menteri senior Hamas menjelaskan kepada saya bahwa Hamas  perlu untuk merubah kebijakannya saat aliran listrik tiba-tiba diputus, seperti yang sering terjadi di bawah pengepungan Israel atas wilayah tersebut. Teriakan keras Ghazi Hamad bergemuruh di dalam gelap gulita.

Tak lama setelah itu, Hamas, yang memerintah Jalur Gaza, menerbitkan revisi efektif dari piagamnya sejak didirikan 30 tahun yang lalu. Yang paling penting, Hamas untuk pertama kalinya memberikan komitmen pada solusi dua negara atas konflik Israel-Palestina. Gerakan tersebut, katanya, siap untuk membahas “sebuah negara Palestina yang berdaulat dan merdeka sepenuhnya, dengan Yerusalem sebagai ibukotanya seperti keadaan pada tahun 1967”.

Reformasi kebijakan seharusnya membuka prospek untuk mengakhiri boikot negara-negara Barat pada kelompok Hamas, yang dilakukan sejak tahun 2007, dan berharap mengakhiri blokade ekonomi yang dilakukan oleh Israel. Dua juta warga Gaza, kebanyakan berstatus pengungsi, saat ini terisolasi di balik tembok dan pagar dan kekurangan hal-hal yang sangat urgen seperti listrik, yang sekarang hanya dinyalakan hanya empat jam sehari atau bahkan kurang dari itu. Palang Merah Internasional sudah memperingatkan pekan ini bahwa krisis listrik mendorong Gaza sampai pada titik “keruntuhan sistemik”.

Tapi masyarakat internasional sekali lagi membiarkan dan meninggalkan Gaza dalam kegelapan dan keputus-asaan kapan siksaan seperti ini akan berakhir. Baik AS dan Inggris telah menjelaskan bahwa mereka percaya bahwa tidak ada yang signifikan yang telah berubah dalam posisi Hamas. Seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri mengatakan: “Mereka harus meninggalkan kekerasan, mengakui Israel dan menerima perjanjian yang telah ditandatangani sebelumnya.”

Benar, apa yang Hamas maksud dengan “Dokumen Prinsip dan Kebijakan Umumnya yang baru” masih suram, terutama karena masih mempertahankan kemungkinan negara Palestina di seluruh sejarah wilayah Palestina. Dan Hamas juga telah mempublikasikan perubahan sekarang sebagai langkah strategis untuk menjamin kelangsungan hidupnya sendiri.

Setelah 10 tahun ekonomi yang lumpuh, Hamas tetap berjuang untuk menjalankan roda pemerintahan. Ini sangat membutuhkan uang untuk membayar bahan bakar dan memerlukan bantuan dari Mesir untuk membuka perbatasannya ke Sinai. Sebagai gantinya, baik Mesir maupun pembayar Arab menuntut agar Hamas menunjukkan sikap moderatnya.

Perhatian pada Hamas ini memberi kesempatan unik kepada negara-negara Barat untuk mengakhiri jalan buntu atas boikot yang dilakukan, terutama karena Hamas saat ini mengikuti gencatan senjata, dan telah menempuh jalan yang jauh untuk memenuhi tuntutan internasional.

Jelas, satu-satunya tanggapan rasional jika kita benar-benar peduli tentang perdamaian adalah dengan mulai berbicara dengan Hamas dan mendorongnya untuk lebih terbuka. Jika kita terus menolak tawarannya, maka Hamas tidak akan memiliki insentif untuk menawarkan lebih banyak, dan pihak yang menolak di Gaza akan menang.

Adalah penting bahwa surat kabar Hamas diterbitkan segera setelah pemilihan mantan kepala militer, Yahya Sinwar, sebagai pemimpin Hamas di Gaza. Yaitu adalah bekas tahanan di Israel selama 22 tahun, dan seorang yang fasih bahasa Ibrani, yang melakukan negosiasi dengan Israel mengenai pertukaran tahanan Shalit pada tahun 2011, Sinwar bisa membawa sebuah suara baru ke meja perundingan. Dia juga memiliki pengaruh secara internal untuk membawa kritik Hamas sendiri di kapal. Hamas semakin ditantang oleh jihadis Salafi yang popularitasnya kecil tapi berkembang di Gaza, dan yang menuduh Hamas terlalu banyak mengatur.

Fakta yang tidak nyaman adalah bahwa negara-negara Barat hanya terlalu senang untuk meninggalkan orang-orang Gaza di dalam penjara mereka; Itu sesuai dengan kemauan kita. Kita tidak peduli dengan kehidupan yang suram, atau tentang apakah listrik menyala enam jam atau empat jam atau jika tidak ada sama sekali. Pemerintah kita hanya ingin membiarkan Gaza terblokir dari pandangan sehingga kita tidak harus menghadapi masalah-masalah yang sangat sulit yang dihadapi – banyak berasal dari akibat tindakan kita sendiri, selain pemboikotan atas Hamas.

Setelah Amerika Serikat, 10 tahun yang lalu, yang bersikeras pada pemilu Palestina, berharap kaum moderat PLO yang akan menang. Sebaliknya, Hamas berkuasa atas gelombang kemarahan setelah kegagalan usaha perdamaian yang selalu gagal. Negara-negara Barat kemudian berpandangan bahwa demokrasi Palestina tidaklah menguntungkan bagi mereka, dan sebagai hukuman, pemboikotan dimulai.

Dengan menerima bahwa Hamas telah memenuhi setidaknya beberapa kondisi di yang diterapkan oleh negara-negara Barat, kita akan dipaksa untuk mempertimbangkan untuk berbicara dengan para wakil dari Hamas, kemudian kita juga bentrok dengan Benjamin Netanyahu, yang tidak ingin mengubah status quo. Mengepung Gaza sementara Israel juga  memperluas permukiman ilegalnya di Tepi Barat dan Yerusalem, sesuai dengan keinginan PM Israel tersebut.

Di jalan-jalan di Gaza tidak ada harapan adanya perubahan, hanya prediksi perang baru. Setelah mewawancarai seorang menteri Hamas, saya mengunjungi sekolah perempuan di Rafah, berbicara dengan siswi berusia 17 tahun yang dapat berbahasa Inggris. Dari kelas tersebut, enam orang kehilangan anggota keluarga dalam perang 2014. Guru mereka telah kehilangan suami dan ayahnya.

Namun di sinilah mereka, dengan mengepit buku pelajaran berbahasa Inggirs dengan mata berbinar, dan berbicara tentang ambisi mereka menjadi dokter, pekerja sosial atau jurnalis. Keberanian dan ketahanan masyarakat Gaza juga tertutup gara-gara boikot yang dilakukan dan apa yang mereka sebut “dinding apartheid”.

Sebelum saya meninggalkan sekolah, para siswi mengajukan pertanyaan kepada saya,”Apa yang Inggris tahu tentang kita?” Dan “Mengapa Inggris tidak menolong kita?” Seorang siswi menjawab pertanyaan temannya dan berkata: “Saya percaya mereka mengira kita hidup di bawah batu.”

Opini diatas ditulis Sarah Helm, mantan koresponden Timur Tengah dan Redaktur Diplomatik harian the Independent. (aaa/umatonline)

Related Articles

Add Comment