Erdogan Bertekad Bawa Kasus Pelanggaran pada Rohingya ke PBB

Category: Berita 21 0

Kispa.Org (Istanbul) –  Presiden Turki Receb Thayyib Erdogan pada hari Senin (4/9/2017) menyatakan bahwa negaranya akan membawa kasus pelanggaran terhadap kaum muslimin Rohingya di Myanmar ke PBB dalam pertemuan-pertemuan Majlis Umum PBB, yang sedianya akan dilaksanakan pada bulan September ini. Hal tersebut disampaikan Erdogan kepada warga yang berkumpul di depan kantor cabang partai AKP di Istanbul. Dia mengatakan, “Hari raya lain telah berlalu dan seluruh dunia Islam mengalami konflik internal dan eksternal.”

Dia menyatakan bahwa Suriah, Irak, Palestina dan Libya adalah pentas konflik-konflik tersebut. Sementara yang terjadi di Myanmar adalah pembantaian besar terhadap kaum muslimin Rohingya. Dia mengangatkan, “Kemanusiaan berdiri terdiam menyaksikan pembantaian tersebut. Turki telah mengirim bantuan ke sana (Myanmar) melalui organisasi Bulan Sabit Merah Turki dan Badan Menejemen Bencara dan Darurat (AFAD). Dan kami akan terus mengirim bantuan kepada mereka.”

Dia menambahkan, “Kami akan menyampaikan situasi di Myanmar dalam sekala luas, melalui pertemuan-pertemuan Majlis Umum PBB dan pertemuan-pertemuan bilateral dengan para pemimpin (yang menjadi peserta dalam pertemuan-pertemuan Majlis Umum PBB yang sedianya akan dilaksanakan pada 19 September mendatang).”

Dia melanjutkan, “Sebagai Ketua Organisasi Kerjsama Islam (OKI), saya sudah melakukan komunikasi dengan sekitar 20 pemimpin di dunia, untuk membahas situasi ini. Tentu ada pemimpin yang mungkin membuahkan pembahasan kami dengan mereka, namun semua tidak sama sensitifitasnya. Yang pasti, kami akan melakukan kewajiban kami.”

Sejak 25 Agustus 2017 militer Myanmar melakukan pelanggaran nyata terhadap HAM di wilayah utara Arakan. Dengan menggunakan “kekuatan yang berlebihan” terhadap kaum muslimin Rahingnya.

Dalam pernyataan Komisaris Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi yang dirilis pada hari Senin (4/9/2017) menyebutkan, lebih dari 87 ribu warga muslim Rohingya meninggalkan Arakan menuju Banglades akibat pembantaian terakhir terhadap mereka yang berlangsung selama 10 hari terakhir ini. (aaa/pip)

Related Articles

Add Comment