Rasisme Israel, Bukan Hanya Pada Orang Palestina

Category: Berita 7 0

Kispa.Org (Palestina) Sebuah laporan yang dirilis surat kabar Amerika “USA Today” beberapa hari yang lalu mengungkap tentang kekecewaan besar pada sejumlah organisasi HAM terhadap rasisme entitas penjajah Zionis Israel terhadap ribuan pengungsi Afrika.

Laporan ini menyebutkan, ada 40 ribu pengungsi Afrika, sebagian besar dari Eritrea, Sudan selatan dan Ethiopia, yang mendekam di pusat-pusat penampungan di padang pasir Nagev (wilayah selatan Palestina terjajah sejak tahun 1948). Israel menutup rapat akses media terhadap perlakuan tidak manusiawi terhadap para pengungsi tersebut, bahkan terhadap anak-anak pengungsi yang lahir di kamp-kamp penampungan tersebut.

Laporan ini menambahkan, sejumlah pengungsi kaget dengan perlakuan tidak manusiawi penjajah Zionis terhadap mereka. Karena pamor entitas penjajah Zionis sebagai “negara demokratis” adalah pendorong utama yang membuat mereka semangat meninggalkan negerinya dan mengungsi ke entitas Zionis, untuk menghindari perang, konflik, kediktatoran dan kelaparan. Namun mereka kaget dengan rasisme entitas penjajah Zionis terhadap mereka.

Kedatangan pengungsi ke entitas penjajah Zionis menurun, setelah pada tahun 2013 entitas Zionis membangun tembok sepanjang perbatasan dengan semenanjung Sinai Mesir. Hal yang memicu pertanyaan seputar sebab utama pembangunan tembok tersebut.

Diskriminasi tidak berhenti pada orang Afrika Muslim dan Kristen, sejumlah laporan mengisyaratkan bahwa diskriminasi terjadi juga pada pengungsi Afrika Yahudi. Meskipun mereka mendapatkan hak pengungsi yang tidak didapat pengungsi lainnya, namun pada hakikatnya itu adalah rasisme juga.

Dalam laporan yang dirilis bulan lalu (Oktober 2017), surat kabar Zionis Ha’aretz menyebutkan bahwa PM Zionis Benjamin Netanyahu telah melakukan kesepakatan dengan Presiden Rwanda Paul Kagame, dalam pertemuan keduanya di sela-sela pertemuan Majlis Umum PBB pada September 2017 lalu, yang isinya untuk memindahkan para pengungsi Afrika ke Rwanda. Hal ini dipandang oleh para aktivis HAM sebagai pelanggaran terhadap standar minimal demokrasi yang diklaim diadopsi oleh entitas penjajah Zionis.

Meskipun tidak ada komentar dari pemerintah Zionis terhadap laporan Ha’aretz tersebut, menegaskan atau menampik, Netanyahu mengatakan dalam pernyataan sebelumnya, usai lawatan di sejumlah negara Afrika, bahwa pemerintahnya memiliki hak melindungi “Yahudi dan Demokrasi” entitas Zionis, dalam standar ganda yang aneh, dia menilai “para penyusup Afrika” sebagai “ancaman” bagi masa depan tentitas Zionis.

Pelanggaran penjajah Zionis tidak berhenti sampai di sini, mereka juga mencuri dana para pengungsi, dengan menahan 20% saldo dan transfer bank mereka, termasuk kebutuhan bulanan yang diberikan oleh pihak-pihak lembaga HAM, dengan diberikan janji dana tersebut diberikan pada saat mereka pergi ke negara lain. Demikian menurut laporan “USA Today”.

Faktanya, sikap-sikap entitas penjajah Zionis tersebut mencerminkan opini publik di entitas penjajah Zionis. Laporan “The Times of Israel” yang berbahasa Ibrani, tahun 2012, menyebutkan bahwa mayoritas orang Israel menilai para imigran Afrika sebagai “kanker”, tanpa kecuali yang beragama Yahudi juga. Prosentasi tersebut naik di kalangan untra kanan radikal mencapai 70%.

Menurut para aktivis HAM, data-data tersebut mencerminkan wajah Zionis yang sesungguhnya. Banyak aktivis HAM menyatakan bahwa praktek-praktek tersebut hanya sebagian dari praktek-praktek sehari-hari yang dilakukan penjajah Zionis terhadap orang-orang Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza, selain terhadap warga Palestina di dalam wilayah pendudukan tahun 1948. (aaa/pip)

Related Articles

Add Comment