Mengenang 17 Tahun Faris Audah, Pahlawan Cilik Penantang Tank Israel

Category: Berita 5 0

Kispa.Org (Gaza) Ia hanya bocah kecil. Bukan sosok pemimpin terkenal di masyarakat. Namun ia kemudian menjadi terkenal di seluruh dunia melalui sebuah fotonya pertama dan terakhir yang membawa batu menghadapi peralatan militer Israel.

Itulah Faris Audah, bocah kecil yang sebagai wujud jelmaan dari makna hakiki sebuah pakem terkenal “kepalan tangan meninju batu”. Kala itu, kamera media massa memotretnya dengan membawa batu menantang sebuah tank zionis penjajah tepat di depannya saat mengagresi Jalur Gaza tahun 2000.

Saat itu, Faris sedang pergi ke sekolahnya setelah agresi Israel ke Jalur Gaza pada 2 November 2000. Namun Faris bersama teman-teman sekolahnya mengambil jalan lain menuju permukiman Yahudi yang dibangun di bekas tanah warga Palestina di Jalur Gaza yaitu “Netsarem”.

Puluhan Faris Palestina

Faris bukan anak biasa layaknya anak lain yang pulang pergi ke sekolahnya setiap hari. Namun di dekat sekolahnya, ia menyembunyikan sejumlah pakaian lain yang digunakan saat bentrokan dengan pasukan penjajah Israel. Usai terlibat dalam bentrokan, ia menggantinya dengan pakaian bersih yang pagi harinya digunakan pergi ke sekolah.

Setelah gugur syahidnya Faris di tahun 2000, sebagian besar bayi yang lahir dari keluarga Audah diberi nama Faris. Sehingga kebanyakan anak-anak keluarga Audah bernama Faris, tegas orang tuanya, Audah mengenang kesyahidan Faris.

Kepada Pusat Informasi Palestina Audah mengatakan, Faris memang bocah pemberani meski masih kecil. Ia tak gentar menghadapi konfrontasi dengan Israel setiap hari. Saya merasakan itu, sebab lebih dari 50 kali konfrontasi dengan Israel, tegas Audah.

Persiapan Kesyahidan

Ibundanya menambahkan, beberapa hari sebelum gugur syahid, Faris bersama keluarganya bertakziyah terhadap sepupunya Shadi, ia mengambil setangkai Bungan mawar di makamnya dan disembunyikan di laci di rumah. Faris meminta kepada beberapa cameramen sejumlah fotonya dirinya di hari-hari terakhirnya menghadapi penjajah. Salah satu foto Faris adalah saat ia melempari tank-tank Israel dengan batu. Foto itu diantarkannya ke rumah. Namun Faris khawatir khawatir dilihat oleh orang tuanya. Ketika ditanya tentang cerita setangkai bunga dan foto itu, Faris menjawab, “Saya hadir pada saat kesyahidan saya”

Ibundanya melanjutkan, “Faris satu dari anak yang komitmen dengan shalat khususnya shalat subuh di masjid. Di hari kesyahidannya, ia turun dari tangga masjid dan kembali ke atas ke bawah selama tiga kali. Saya sebagai ibunya melihat di matanya raut perpisahan, khususnya setelah ketahuan setangkai bunga dan fotonya sedang terlibat konfrontasi dengan Israel.”

Hari Kesyahidan Itu

Suatu pagi, 8 November jam 9.30, kepala sekolah menghubungi ibunda Faris dan menginformasikan bahwa anaknya tidak masuk sekolah. Pada saat itu, Faris terkena tembakan pasukan Israel dengan peluru berat yang menembus lehernya yang terus mengalami pendarahan. “Teman-temannya tiga orang membawanya dan kata-kata terakhirnya, “Ibu mana ibu”.

Faris adalah anak keenam dari keluarga 9 bersaudara. Rumah keluarga Faris pada agresi Israel di tahun 2014. Saudara kandungnya juga menjadi sasaran tembakan Israel tiga bulan setelah Faris gugur. Setelah gugurnya Faris sejumlah puisi dan tulisan dibuat dalam sastra perlawanan. (aaa/pip)

Related Articles

Add Comment