Sampah Beracun, Bisnis Maut yang Datang dari Israel

Category: Berita 36 0

Kispa.Org (Ramallah) Otoritas penjajah Zionis telah menjadikan Tepi Barat sebagai kubangan pembuangan sampah berbahaya yang komposisinya banyak tidak diketahui, yang terus meningkat di tengah-tengah upaya sederhana Palestina untuk menghadang fenomena ini. Banyak pemilik pabrik Israel, baik yang di dalam wilayah Palestina terjajah sejak tahun 1948 atau bahkan di permukiman-permukiman industri yang tersebar di Tepi Barat, sengaja membuang sampah pabrik mereka ke wilayah Tepi Barat, untuk dimusnahkan di sana, karena murahnya biaya dan kemudahan transportasi ke sana.

Proses ini terjadi berkat koordinasi dengan para kontraktor Arab baik dari penduduk wilayah Palestina terjajah sejak tahun 1948 atau bahkan dari dalam Tepi Barat, dengan imbahan materi. Menurut sejumlah lembaga HAM, pihak-pihak Zionis telah menggunakan lebih dari 50 lokasi untuk membuang sampah berbahaya di Tepi Barat dengan berbagai cara. Warga Palestina Ali Syabita dari desa Azun di timur Qalqilia, kepada Pusat Informasi Palestina mengisyaratkan adanya kubangan (TPA) yang digunakan untuk menimbun sampah penjajah Zionis yang berada di antara Azun dan Jayus, menyebabkan penularan penyakit dan dari tempat tersebut muncul keluar uap bahan kimia yang terkadang menimbulkan ancaman bagi warga.

Kasus terungkapnya truk-truk yang membawa sampah berbahaya Zionis menuju TPA Zahra Finjan di Jenin, wilayah utara Tepi Barat, hanya satu kasus dari banyak kasus di mana otoritas penjajah Zionis merubah Tepi Barat menjadi kubangan pembuangan sampah berbahaya dari sampah-sampah Zionis. TPA Zahra Finjan adalah TPA utama bagi sampah propinsi-propinsi wilayah utara Tepi Barat. Didirikan sejak lebih dari 10 tahun lalu dengan standar internasional. Sumber-sumber di Jenin, berdasarkan hasil investigasi yang dilakukan, mengungkap adanya keterlibatan pihak-pihak di TPA Zahra Finjan di kota Jenin untuk membawa sampah berbahaya yang bersumber dari Zionis ke TPA tersebut.

Menurut penelitia, sampah-sampah tersebut kemungkinan diselundupkan dari kompleks-kompleks permukiman Yahudi di Tepi Barat atau dari pabrik-pabrik Israel di dalam wilayah Palestina yang diduduki penjajah Zionis sejak tahun 1948, dan dibuang di tanah pribadi Palestina dengan imbalan uang, yang kebanyakan jumlahnya tidak lebih dari 100 dolar tiap truk. Bahkan kadang-kadang uang yang dibayar tidak lebih dari 50 dolar. Peneliti lingkungan yang mengikuti isu-isu ini, George Karzem, kepada koresponden Pusat Informasi Palestina mengatakan bahwa penyelundupan sampah fasilitas dan limbah berbahaya oleh penjajah Zionis ke wilayah Tepi Barat, semakin memburuk dalam tahun-tahun terakhir.

Dia mengingatkan bahwa para kontraktor dan para sopir truk Israel yang terlibat dalam penyelundupan sampah ini, menyediakan dana besar yang seharusnya mereka bayarkan untuk TPA-TPA legal di Israel. Biaya penimbunan sampah Israel di Tepi Barat jauh lebih murah dari harga yang ditetapkan di TPA-TPA Israel yang berizin.

 

Tak Ada Sanksi yang Membuat Jera
Kepada koresponden Pusat Informasi Palestina, sumber-sumber Palestina menyatakan bahwa kesepakatan terjadi antara makelar-makelar yang sudah terkenal dengan para pemilik tanah sebagai tempat pembuangan sampah dengan imbalan uang. Namun demikian aparat resmi Otoritas Palestina tidak bisa berbuat apa-apa terhadap mereka, baik terhadap para makelar lokal atau pemilik tanah.

Para pemilik tanah kadang-kadang beralasan bahwa mereka tidak tahu status sampah di tanah mereka, sementara mereka dibayar untuk itu, mereka mencoba untuk menghindari, di tengah tidak adanya sanksi yang membuat jera.

Padahal UU Palestina menyebutkan, “Siapa yang bekerja mengimpor sampah berbahaya ke tanah Palestina maka akan dikenakan hukuman penjara seumur hidup dengan kerja berat, sesuai dengan ketentuan Pasal 63 yang ditambahkan pada Pasal 13 ayat A Undang-undang Lingkungan Palestina.”

Meskipun sudah ada yang ditangkap karena dicurigai membawa sampah berbahaya atau makelar yang terkenal atau yang lainnya, namun tidak ada satu vonis pun yang diputuskan untuk mereka, aturan tersebut tidak berlaku pada mereka. Hal inilah yang menjadikan mereka aman dari sanksi. (aaa/pip)

Related Articles

Add Comment