Proyek Trump Jadikan Al-Quds Ibukota Israel

Category: Berita 16 0

Kispa.Org – Jika benar bocoran soal isi pengumuman presiden Amerika Donald Trump terkait perubahan sikap AS terhadap Al-Quds yang akan dinyatakan Rabu nanti, maka isu Palestina dan konflik Arab – Israel memasuki fase baru unpresendent yang belum terjadi sebelumnya sejak tahun 1967. Jika benar, ini akan menentukan nasib Kota Suci ini sebagai salah satu isu pokok Palestina.

(bocoran perubahan sikap AS itu berisi:) Pengakuan Amerika terhadap Al-Quds sebagai ibukota Israel dan pemindahan kedubes AS ke kota ini jika benar-benar terjadi, banyak pengamat mengaitkan keputusan Amerika menjalankan apa yang menjadi agendanya yakni proyek penyelesaian damai utuh atau perjanjian konperhensif yang memberikan semuanya kepada Israel, sementara Palestina tak mendapat apa-apa.

“Intifada Baru secara teori lebih besar dari sebelumnya.”

Jika reaksi dunia Arab akan bersifat massif dan di luar prediksi karena rezim-rezim Arab saat ini, maka reaksi public dan rakyat, khusus di wilayah Palestina terjajah atau di wilayah lainnya yang diaspora akan jauh lebih besar. Reaksi itu bisa menyulut intifada baru yang secara teori akan lebih besar. Selain itu, akan ada reaksi public Arab dan Islam terhadap Amerika.

Jika presiden Trump tetap pada keputusan ini, akan terjadi dua sekenario; pertama, ada peluang Trump mengumumkan pengakuan AS bahwa Al-Quds sebagai ibukota Israel dan mengeluarkan intruksi memulai proses pemindahan kedubes AS dari Tel Aviv ke Al-Quds (Yerusalem). Ada sekenario lain, Trump mendeklarasikan pengakuan AS bahwa Al-Quds sebagai ibukota Israel dan akan diteken tandatangan dekrit presiden menunda pelaksanaan keputusan Kongres memindahkan kedutaan besar AS sampai enam bulan berikutnya.

Di Tel Aviv dan Amerika, ada yang menilai perkembangan dramastis terkait investigasi dalam hal intervensi Rusia dalam pemilu Amerika dan pengungkapan perkara bahwa mantan penasihat keamanan nasional Trump Michael Vlin telah diterima bisa jadi akan menjadi saksi memberatkan dalam kasus ini. ini yang akan memperkuat peluang presiden Amerika mengambil langkah mendukung Israel dan memindahkan kedutaan besar AS ke Al-Quds dalam pembahasan ketetapannya di Kongres, ditambah lagi banyak pendukungnya dari Partai Demokrat dan kelompok penekan dan lobi Yahudi di sana.

Bocoran Israel dan Amerika lain menyebut, TV2 Israel menepis Trump akan mengajukan sejumlah sekenario. Sebab, penasihatnya memperingatkan imbas buruk perubahan sikap Amerika terhadap Al-Quds (mengakuinya secara resmi sebagai ibukota Israel dan memindahkan kedubesnya) sebab AS lebih memilih mematangkan inisiatif solusi konflik Palestina – Israel. Secara politis, langkah AS ini bisa membuat negara-negara Arab bersikap serba salah. Sebab, selama ini Arab membebek Washington dalam menjalankan agenda penyelesaian damai. Apalagi Saudi, Mesir dan Yordania.

“Langkah Amerika ini memiliki dimensi hukum yang sangat berbahaya”

Jika bocoran bahwa Trump akan mengumumkan pengakuan AS bahwa Al-Quds ibukota Israel dan diikuti oleh kebijakan pemindahan kedubes ke kota suci itu, maka akan berdampak buruk kepada kemampuan Paman Sam dalam hal menggulirkan inisiatif penyelesaian damai, terlepas dari isi dan esensinya.

Dari sisi hukum, deklarasi Amerika soal ini justru menimbulkan banyak masalah di esensi keputusan ini. jika Trump mendeklarasikan Al-Quds sebagai ibukota satu-satunya (Al-Quds timur dan barat) sebagai ibukota Israel, maka langkah ini akan berimplikasi pada dimensi hukum yang berbahaya. Ini menjadi kudeta dramastis atas sikap Amerika terkait dengan status penjajahan Israel terhadap wilayah Palestina setelah perang tahun 1967 dan melegalkan pemukiman Yahudi di kota Al-Quds tersebut.

Pengakuan ini berarti Amerika tak lagi menilai eksistensi Israel di Al-Quds Timur bukan sebagai bentuk penjajahan. Secara hukum, Amerika mengakui semua permukiman Yahudi yang dibangun Israel pasca perang tahun 1967 yang sebagian dibangun di wilayah Tepi Barat dan kemudian ditetapkan sebagai perbatasan permukiman Israel di Al-Quds.

Selain itu, langkah AS ini secara politik dan riil memastikan status Al-Quds sebelum masuk dalam perundingan apapun dan dinilainya bukan bagian dari solusi final yang akan dibahas dalam perundingan.

Keputusan Amerika ini juga akan membawa imbas keamanan besar. Public Palestina hampir dipastikan akan bergejolak dan meletuskan Intifadhah di Tepi Barat dan wilayah. Karena alasan ini, sebagian pengamat militer Israel keberatan dengan langkah Trump ini, seperti tegas Roni Daniel di TV2 Israel.

Namun di sisi lain, rekonsiliasi Palestina akan semakin mengkristal antara Hamas dan Fatah serta semakin mendapatkan kredibilitas untuk mempercepatnya.

Bisa jadi, bocoran di atas sebagai alat tekan kepada elit Otoritas Palestina agar menerima gagasan draft inisiatif Amerika soal penyelesaian konflik Palestina – Israel. Sebagian media Arab bahkan menyerukan agar mendeklarasikan negara Palestina di wilayah perbatasan sementara di luas wilayah sekitar 50 persen dari wilayah Tepi Barat dengan tetap memberikan kewenangan kepada Israel dalam urusan keamanan dan kedaulatan perbatasan dan udara serta pemberikan paket bantuan dana besar kepada negara Palestina.

Jelas, tak mungkin sama sekali elit Otoritas Palestina menerima gagasan di atas karena dianggap sebagai draft format otonomi yang dirusak. Berkali-kali dalam banyak kesempatan, Mahmud Abbas menolak gagasan negara di perbatasan sementara. Sebab menerima gagasan itu sama saja mengubur isu Palestina seluruhnya. (aaa/pip)

Related Articles

Add Comment