Dosa Besar Deklarasi Balfour, Kenapa Inggris Tolak Minta Maaf?

Category: Artikel 20 0

1297539827Kispa.org – Gaza – Thalal An-Nabih

Dalam peringatan 100 tahun Deklarasi Balfour, tuntutan paling mencuat kuat adalah agar Inggris meminta maaf atas dosa besarnya yang menyebabkan satu bangsa terusir dari negeri mereka. Namun seakan London kehilangan urat malu dan rasa bersalah. Bahkan PM Inggris, Theresa May dengan pongahnya bersama PM Israel Benjamin Netanyahu menyatakan berbangga dengan deklarasi sial itu.

Pusat Informasi Palestina mencoba mencari jawaban atas sikap Inggris dengan dua nara sumber dari pakar politik dan HAM. Kedua pengamat ini justru menyatakan untuk saat ini Inggris sangat sulit diharapkan akan meminta maaf dengan berbagai alasan dan motif. Keduanya, juga sepakat harus menyatukan sikap Arab menghadapi deklarasi sial ini dan mendorong Inggris meminta maaf.

Pakar politik Azzam Tamimi menilai, situasi yang mendorong terbitnya Deklarasi Janji Balfour harus dipelajari dengan baik sehingga bisa memahami konteks sejarah atas sebuah peristiwa kekinian sehingga dibahas bagaimana menghilangkan dampak negatifnya, kecuali bicara soal “menghilangkan” entitas zionis Israel.

Tamimi menyatakan kepada Pusat Informasi Palestina, pemerintah Inggris saat ini berpihak bongkoan kepada entitas zionis meski publik di sana mengalami kemajuan dalam keberpihakannya kepada Palestina selama tiga dasa warsa terakhir sejak meletusnya Intifada Desember 1987.

Akademisi Palestina yang pernah tinggal di Inggris ini menandaskan, yang diharapkan saat ini bukan mengubah politik Inggris namun lebih kepada peralihan dan perubahan situasi di kawasan Arab.

Hari Kamis kemarin (2/11) bertepatan dengan 100 tahun tanda-tangan Deklarasi Balfour yang hakikatnya adalah pihak yang tidak memiliki memberikan kepada orang yang tidak berhak. Keputusan Inggris ini menjadi paling sial bagi Palestina sehingga implikasinya masih terus terjadi secara akumulatif sampai saat ini terhadap bangsa Palestina.

Peran Seharusnya

Sementara itu, pakar hukum internasional Abdul Hamid Sya’ban menegaskan dunia Arab harus memiliki sikap bersama baik pemerintah dan rakyatnya untuk mengakhiri Deklarasi dan implikasi yang dihasilkan. “Inggris tidak serius dalam merevisi sikapnya terhadap Deklarasi Balfour dan terhadap penderitaan yang menimpa bangsa Palestina akibat deklarasi itu,” tutur Sya’ban.

Menurutnya, untuk untuk menghapus implikasi dan dampak buruk Deklarasi Balfour ini dibutuhkan semua cara dan senjata, terutama persatuan sikap Arab selain konfrontasi ekonomi, budaya, media, politik dan diplimasi internasional untuk menekan Inggris agar mau minta maaf.

Pengamat hukum internasional yang tinggal di London ini melihat Inggris harus dituntut untuk meminta maaf sebab telah menimbulkan kerugian luar biasa bagi rakyat Palestina selama satu abad. Israel sendiri dibangun di atas sejumlah penyangga; Deklarasi Balfour, Resolusi PBB, resolusi PBB 181 tahun 1947 yang menjadi landasan bagi pendirian Israel.

Penjajahan Ilegal

Sya’ban menganggap, Deklarasi Balfour terbit pada saat penjajahan Inggris menjajah Palestina dan sejumlah negara Arab sehingga itu hal yang ilegal. Keputusan mengubah system, negara, hukum, perbatasan, status negara adalah inkonstitusional berdasarkan kaidah undang-undang kemanusiaan internasional.

Sayangnya, menurut kolumnis Azzam Tamimi, sebagian besar rezim Arab justru mencari simpati kepada Israel. Bahkan sebagian negara-negara itu menekan Inggris dan sebagian negara kuat di Eropa agar tegas kepada Palestina terkait penyikapan terhadap organisasi perlawanan sebagai organisasi teroris.

Ia menjelaskan, undang-undang internasional dibuat oleh negara-negara kuat dan Deklarasi Balfour merupakan hasil dari perimbangan kekuataan saat dan pasca Perang Dunia I dan sama sekali tak berpihak kepada umat Islam dan bangsa Arab.

Meski Inggris dituntut minta maaf, namun itu agaknya masih jauh dari harapan. Sebab perimbangan kekuatan dunia masuk berpihak kepada Israel. itu diperparah dengan setback Arab Spring dan brutalnya revolusi balik.

Karena itu, semua pejuang kemanusiaan dan pro Palestina harus bersatu menekan Inggris segera meminta maaf dan mengembalikan ganti rugi kepada Palestina. Sebab Deklarasi Balfour adalah memo inkonstitusional. Inggris harus membantu mengembalikan rakyat Palestina kembali ke tanah air mereka. Hal itu bisa dilakukan melalui Lembaga-lembaga diplomasi, hukum, media, NGO sahabat Palestina di Inggris.

Setiap 2 November setiap tahunnya harus dijadikan “hari dunia melawan permukiman yahudi di Palestina” dan menggela kempanye anti penjajah Israel. (aa/pip)

Related Articles

Add Comment