Intifadhah Kebebasan al-Quds, Apakah Bola Api Akan Bergulir?

Category: Artikel 12 0

Kispa.org – Gaza593361735

Jum’at (8/12/2017), 4 warga Palestina gugur dan lebih dari 1100 lainnya terluka dalam konfrontasi yang terjadi di lebih dari 38 titik di Tepi Barat dan Jalur Gaza, mengawali hari kedua “Intifadhah Kebebasan al-Quds” melawan keputusan Presiden Amerika Donlad Trump yang mengakui kota suci al-Quds sebagai ibukota bagi penjajah Zionis Israel. Situasi semakin eskalatif di tengah-tengah gelombang para pemuda Palestina yang bergerak menuju titik-titik sentuh dengan penjajah Zionis.

Para pengamat dan analis politik telah memprediksi intifadhah rakyat akan terus meningkat menyusul keputusan Trump tersebut. Bahkan faksi-faksi Palestina menyerukan pada hari Jum’at itu sebagai hari Jum’at marah. Kepala Biro Politik Gerakan Perlawanan Islam Hamas, Ismail Haniyah, meminta agar dikobarkan api intifadhah Palestina baru dan komprehensi melawan penjajah Zionis.
Reaksi Alami.

Analis politik Shalahuddin Awawidah, Hani Bassus dan Aiman Rafati sepakat bahwa kemarahan sengit rakyat ini adalah reaksi alami akibat perasaan penindasan politik dari penjajah Zionis dan dari sekutunya Amerika Serikat yang mengungkap kebijakannya yang bias memihak kepada penjajah Zionis.

Rafati menilai konsekuensi gelombang rakyat ini akan berbahaya bagi penjajah Zionis apabila aksi ini berkembang menjadi aksi perlawanan terorganisir yang didukung oleh semua kalangan Palestina. Sementara itu Awawidah menilai gelombang ini bila ditakdirkan untuk terus berlanjut, maka tidak diragukan lagi akan menjadi kesempatan terakhir bagi orang-orang Palestina dan kaum muslimin secara umum untuk melindungi al-Quds dan masjid al-Aqsha. Dan ini bukan hanya sekedar slogan saja.

Akademisi Hani Bassus memprediksi, intifadhah ini akan berkembang dengan segala bentuknya. Keputusan Amerika merupakan serangan terhadap al-Quds, Palestina dan umat Islam. “Bahkan itu merupakan deklarasi perang terhadap rakyat Palestina,” ungkapnya.

Perkembangan Intifadhah

Awawidah menilai perkembangan intifadhah diharapkan tidak berhadapan dengan kekuatan-kekuatan lokal dan regional. Menurutnya, penjajah Zionis dan para pemukim Israel tidak bisa hidup di tengah-tengah rakyat yang melakukan intifadhah.

Dia mengatakan, “Permukiman-permukiman Yahudi kosong dari para pemukim Yahudi pada saat intifadhah-intifadhah berlangsung, berubah menjadi barak-barak militer dan area perang. Hal ini yang memaksa penjajah Zionis menarik para pemukimnya dari Jalur Gaza dan dari beberapa permukiman Yahudi di Tepi Barat. Ini juga berlaku pada al-Quds dan semua wilayah di Tepi Barat.”

Sementara itu Rafati menegaskan bahwa perkembangan gelombang rakyat ini secara mendasar tergantung dengan Tepi Barat dan seberapa kuat interaksi orang-orang Palestina dengan gelombang ini. Karena Tepi Barat merupakan ancaman keamanan bagi penjajah Zionis. Satu aksi yang terkendali di dalam kota-kota yang diduduki penjajah Zionis akan memiliki resonansi kobaran besar bagi semangat kerja perlawanan pada orang-orang Palestina.

Dia menambahkan, “Gelombang ini bisa berkembang menjadi intifadhah yang sengit pada saaat semua kekuatan Palestina yang ada ikut terlibat tanpa dimodifikasi satu kekuatan. Intifadhah yang mewakili semua komponen Palestina dan dalam bentuk intifadhah rakyat dan nasional.”

Jaminan Kelangsungan

Hani Bassus menilai bahwa dukungan internasional, dunia Islam dan Arab kepada gelombang rakyat Palestina ini menjadi poros penting bagi kelangsungan intifadhah ini. Hal ini ditegaskan Awawidah bahwa kakikat keputusan berlanjutnya intifadhah dan keputusan nasib al-Quds dan masjid al-Aqsha pada di tangan Presiden Otoritas Palestina Mahmud Abbas.

“Bila dia dia berkeras terus bertindak represif terhadap rakyat Palestina, maka dia akan menghadapi pemberontakan dan revolusi rakyat yang melawan dia, atau dia harus menyerah menghadapi rakyat Palestina dan perjuangannya. Rakyat Palestina dan masyarakat umat Islam yang ada di belakangnya mampu untuk menghancurkan gunung dan menghancurkan entitas penjajah Zionis beserta mereka yang ada di belakangnya,” imbuhnya.

Rafati menyatakan bahwa rahasia kelangsungan itifadhah ini terletak pada dimensi nasional dan perasaan individu akan kelemahan sitem politik Palestina pasca Oslo yang telah merubah persoalan Palestina hanya sebagai persoalan hidup semata.

Awawidah kembali menegaskan bahwa gelombang rakyat ini membutuhkan persatuan nasional. Itu yang pertama. Berikutnya, gelombang ini membutuhkan kepimpinanan Palestina yang bijaksana, tidak membesar-besarnya hal kecil dan tidak berpetualang tanpa petunjuk. Tujuan-tujuannya harus dibatasi dengan al-Quds dan permukiman-permukiman Yahudi. Berusaha menghimpun para pendukung dan menjauhi menciptakan musuh baru bagi bangsa Palestina.

“Pembebasan Palestina dan melenyapkan penjajah (Zionis) secara final bukanlah apa yang dilakukan intifadhah. Namun orang-orang Palestina harus menyepakati tujuan-tujuan dan sarana. Bekerja bersama-sama untuk mewujudkannya. Tidak berpecah belah dan saling berselisih,” imbuhnya. (aa/was/pip)

Related Articles

Add Comment