Mohamed Tamimi, Bocah yang Melawan Peluru Israel dengan Kepalanya

Category: Artikel 79 0

-1198399703Kispa,org – Selfit

Pada hari Jum’at 15 Desember 2017 Mohamed naik ke dinding penahan yang tingginya lebih dari tiga meter, untuk memantau pergerakan para serdadu penjajah Zionis. Tapi ada seorang serdadu Zionis di bawah dan sedang mengamati pergerakan bocah berusia 15 tahun tersebut, yang langsung melesakkan tembakan hingga merobek wajahnya sampai si bocah terbang dari atas tembok dan jatuh membentur tanah.

Kepada Pusat Informasi Palestina, ibu korban mengatakan, “Saat itu saya sedang shalat di dalam rumah. Tiba-tiba putri saya berteriak bahwa Mohamed terluka. Dia jatuh dari pagar rumah. Bantuan kejut tak banyak membantu kecuali teriakan anak muda. Saya agak tenang karena peluru yang mengenai adalah peluru karet dan bukan peluru tajam.”

Dengan perasaan sakit dan linangan air mata, ibu Mohamed Tamimi (15) asal desa Nabi Shaleh di utara Ramallah, ini menurutkan, “Melalui melalui sinar x, diketahui bahwa peluru karet telah menembus kepala Mohamed dari atas telinga kiri dan bersarang di dalam tengkorak di dekat otak tanpa berdampak langsung pada otaknya. Para dokter membutuhkan beberapa waktu untuk mengeluarkannya.”

Mengenai kondisi kesehatannya sekarang, dia menceritakan, “Mohamed kondisinya masih tak sadarkan diri. Masih dibantu dengan alat pernafasan dan terbaring di kamar ICU. Tidak bisa dipastikan kondisi kesehatannya kecuali setelah siuman dari komanya, akibat pendarahan yang terjadi padanya, dia menghirup banyak darah yang menyebabkan dia menderita pneumonia.

Menarget Anak-anak

Menurut Ali Tamimi, remaja Palestina yang meyaksikan peristiwa penembakan terhadap Mohamed Tamimi, para serdadu penjajah Zionis sengaja menembaknya dari jarak dekat. Dia menambahkan, “Kami sampai tertegun karena banyaknya darah yang keluar dari Mohamed. Kami menariknya sambil berlari ke tengah desa.”

Dia melanjutkan, “Israel tidak cukup hanya melukai Mohamed. Beberapa hari kemudian mereka menangkap sepupunya, si bocah pirang Ahed Tamimi dan keluarganya, sebagai balas dendam terhadap keluarga yang menolak peninsasan penjajah Zionis dan selalu ikut dalam pawai damai pekanan di desa Nabu Shaleh.

Derita Berkelanjutan

Ibu Mohamed menegaskan bahwa anaknya pernah ditahan penjajah Zionis dan dibebaskan. Dia mendekam di penjara Zionis pada usia 13 tahun. Dia juga terluka tembak lebih dari sekali dalam konfrontasi melawan pasukan penjajah Zionis yang terjadi di desa Nabi Shaleh.

Dia menambahkan, “Sejak deklarasi Trump yang mengakui al-Quds sebagai ibukota entitas penjajah Zionis, hampir seteiap hari terjadi konfrontasi dengan pasukan penjajah Zionis. Para serdadu penajjah Zionis mendirikan pos militer di gerbang desa, dengan dalih untuk memeriksa identitas para pemuda, sebagai alasan untuk menangkap siapa saja yang diinginkan. Ketegangan senantiasa terjadi.”

Sejak deklarasi Trump yang mengakui al-Quds sebagai ibukota Israel, telah gugur 15 pemuda Palestina dan lebih dari 3 ribu terluka di Tepi Barat, al-Quds dan Jalur Gaza, selama pawai dan demonstrasi yang memprotes keputusan Amerika tersebut. (aa/pip)

Related Articles

Add Comment