Israel Manfaatkan Situasi untuk Berangus Isu Palestina

Category: Artikel 19 0

-246292952Kispa.org – Nablus

Menurut penulis dan analis politik Samer Anabtawi, apa yang direncanakan Israel dan apa yang dilakukan sekarang di Tepi Barat adalah pelaksanaan rencana proyek “Alon”.

Kepada Pusat Informasi Palestina, dia menegaskan bahwa tahap sekarang ini adalah tahap untuk memberangus isu Palestina. Israel sedang memanfaatkan situasi internasional dan regional serta ketergesa-desaan beberapa negara Arab untuk melakukan normalisasi dengan Israel, selain memanfaatkan kondisi perpecahan dan kemunduran kinerja Palestina.

Dia menilai apa yang terjadi sekarang ini adalah menerapkan kompromi Amerika Israel yang disepakari sejak lama. Namun muncul ke permukaan secara jelas belakang ini, dalam rangka berbagi peran antara penjajah Zionis dan Amerika untuk melaksanakan “proyek penyerahan” pada bangsa Palestina.

Anabtawi mengatakan, rencana ini sudah dilakukan pada tahun-tahun yang lalu, dengan mengukuhkan isolasi Tepi Barat dari Jalur Gaza, sebagai pendahuluan untuk proyek perluasan Gaza dan mengusir penduduk menuju Sinai, serta mendirikan sebuah entitas yang mungkin bernama sebuah negara Palestina.

Adapun Tepi Barat maka arah rencana penjajah Zionis jelas. Yaitu melaksanakan UU Israel atas Tepi Barat secara umum, awalnya sekarang pada 60% wilayah Tepi Barat, yaitu pada kompleks-kompleks permukiman yahudi dan wilayah keamanan sekitarnya serta jalan-jalan protokol.

Sedang 40% wilayah Tepi Barat, yaitu wilayah zona “a” dan sebagian wilayah zona “b”, ditempatkan dalam kantong-kantong dengan adanya penduduk non-warga, namun terikat dengan pemerintah otonomi, dengan beberapa penataan dengan Yordania.

Bahkan skenario ini adalah solusi sementara bagi Israel, sampai terjadi hegemohi total atas wilayah Tepi Barat dan pencalokannya secara keseluruhan, setelah dilakukan langkah-langkah yang banyak mengarah kepada migrasi sukarela akibat tekanan ekonomi atau berbagai faktor, untuk mengurangi kepadatan penduduk secara signifikan.

Anabtawi dalam perilaku “Koordinator Kerja Pemerintah Israel di Wilayah (Palestina)” membuktikan arah jelas penjajah Zionis untuk senuhnya mencabik-cabik isu Palestina dan merubahnya dari isu sebuah bangsa, kebebasan isu politik mejadi isu kehidupan penduduk.

Dia menjelaskan bahwa perilaku ini memiliki dua arah yang paralel. Dari satu sisi berupaya masuk dengan asimilasi sosial Palestina secara terang-terangan, untuk mengarahkan orang-orang Palestina secara langsung menerima solusi mendatang bagi penyelesaian masalah sehari-hari.

Dari sisi lain, berusaha menempatkan Otoritas Palestina di antara dua pilihan. Menyelaraskan dengan situasi ini dan menerimanya, cukup dengan mengelola urusan penduduk di dalam wilayah pendudukan dan terikat penuh dengan proyek Zionis tersebut, atau merusak otoritas pusat dan memperkuat otoritas semua kantong masing-masing.

Apa yang Harus Dilakukan?

Gambaran gelap dan suram tentang masa depan isu Palestina terlukiskan oleh kebijakan-kebijakan dan langkah-langkah Israel dan yang di belakang mereka yaitu pemerintah Amerika. Ha ini menjadikan pilihan-pilihan langkah Palestina terbatas.

Namun demikian, masih ada beberapa berkas yang memungkinkan bagi Otoritas Palestina untuk digunakan menghadapi dan menghalangi rencana-rencana penjajah Zionis. Namun ini bergantung pada sejauh mana persiapan pimpinan otoritas Palestina untuk mengambil langkah-langkah berani dan tidak konvensional.

Ketua Departemen Ilmu Politik Universitas Hebron, Dr. Bilal Syobaki mengatakan bahwa apa yang ada pada pimpinan PLO jauh lebih besar dari apa yang digambarkan oleh para jurubicara resmi PLO, yang mengatakan bahwa “apabila Amerika tidak transparan memimpin proses perdamaian, maka kami akan mencari mediator lain.”

Dia meyakini, sebagai orang Palestina harus kembali menyatukan komponen seluruh bangsa Palestina dan dalam konteks geografis, dengan menunrut seluruh hak-hak Palestina yang mengembalikasi situasi kepada kondisi sebelum Oslo.

Dia menjelaskan, karena Amerika dan Israel berlepas diri dari solusi dua negara, lantas apa yang merugikan Palestina dengan mengumumkan terang-terangan akan menuntut hak-haknya di dalam wilayah pendudukan tahun 1948? Kenapa kita gigih dengan pilihan wilayah 1967 padahal kita tidak mungkin mendapatkan sebgian darinya?

Bagi mereka yang melihat bahwa pilihan ini tidak realistis, maka perlu diketahui bahwa apabila Israel dan masyarakat internasional tidak akan mengemblikan tanah yang diduduki tahin 1967 atau 1948, maka lebih bijak kalau menuntut pilihan lebih baik bagi Palestina.

Dia menambahkan, “Bila kita menuntut tanah 1948 dan belum terealisasi, maka paling tidak kita tidak berada di jalan buntu perbatasan 1967 saat ini.” Meski pentingnya dukungan masyarakat itternasional secara diplomatik kepada isu Palestina, namun tidak ada langkah politik apapun yang diambil atau langkah konkrit untuk menghadapi langkah-langka Trump.

Sedang Anabtawi menegaskan bahwa pimpinan PLO telah membahar banyak perkas dan menyia-nyiakan waktu untuk meyakinkan penjajah Zionis dengan memberinya sebuah negara melalui perundingan, dan memberi kesempatan kepada penjajah Zionis untuk melakukan perluasan, yahudisasi dan melakukan segala hal di lapangan.

Namun dia melihat masih ada secercah harapan. Bahwa masalah ini mulai terungkap dan jelas. Siap yang meyakini kemungkinan mediasi Amerika bersih, sampai kepada keyakinan bahwa ini tidak benar. Siapa yang meyakini bisa mendapatkan sesuai dengan perundingan maka ini masih tidak mungkin.

Karena itu hanya ada satu jalan bagi bangsa Palestina. Yaitu persatuan nasional menyeluruh, mengakhiri perpecahan dan membangun front internal, terlebih bangsa Palestina yang teguh dan komitmen dengan haknya ini membutuhkan pimpinan bersatu yang memelihara kepentingan nasional dan menyiapkan bangsa Palestina untuk yang akan datang.

Dia juga menyerukan untuk membangun kembali aliansi internasional yang didasarkan kepada sikap pada isu Palestina dan mengambil pelajaran dari apa yang terjadi di kawasan regional, berupa kemunduran kontrol Amerika pada tingkat global dan munculnya banyak kekuatan sentral di dunia.

Dia meminta dirumuskan kembali program nasional, mengembalikan hubungan dengan penjajah Zionis ke frame awal. Yaitu: “sebuah bangsa di bawah penjajahan yang ingin bebas”, dan pergi ke forum-forum internasional secara paralel dan bersatu. (aa/was/pip)

Related Articles

Add Comment