Apakah Krisis Gaza Akan Bergulir Menjadi Perang Menyeluruh?

Category: Artikel 41 0

972800122Kispa.org – Gaza

Segala yang ada di lapangan menunjukkan bahwa ada lebih banyak krisis yang sedang menuju Jalur Gaza. Dari krisis tersebut penjajah Zionis dan para sekutunya ingin memutus setiap harapan dalam hidup yang bermartabat. Dan pengalihan penderitaan adalah kenyataan, dimulai dengan krisis ekonomi, gerakan buruh, gaji dan pengepungan, dan ancaman agresi.

Belakangn ini, dalam pembicaraan di media, para pemimpin penjajah Zionis fokus tentang kebijakan agresi lapangan dan keamanan, yang intinya dalam rangka (mencekik) Jalur Gaza dan melemahnya sebelum dilancarkan agresi untuk menjatuhkan perlawanan.

Hasil pertunjukan pertama Israel dalam kebijakan (mencekik) Jalur Gaza saat ini adalah ucapan Menteri Militer Zionis Avigdor Lieberman yang mengatakan bahwa penjajah Zionis sedang melakukan tekanan maksiman terhadap Jalur Gaza sebelum apa yang disebutnya “perang menyeluruh”.

Di tengah-tengah aksi berkesinambungan yang menarget terowongan, berlanjutnya pembangunan tembok di pagar pemisah, dan pemberlakuan prosedur sangat ketat sekitar Jalur Gaza, penjajah Zionis berbicara tentang waktu 6 bulan untuk melenyapkan bahaya terowongan sebelum dimulai agresi.

Pasukan penjajah Zionis telah melancarkan tiga perang ke Jalur Gaza (2008-2009, 2012 dan 2014). Ketiga perang ini telah mengakibatkan sekitar 44500 warga Palestina gugur dan puluhan ribu lainnya terluka. Perang tersebut telah mengakibatkan sekitar 150 ribu rumah hancur total dan sebagian, ditambah kehancuran luas pada fasilitas dan infrastruktur.

Menggigit Kekuatan Palestina

Di kalangan rakyat bawah di Jalur Gaza krisis berkembang dalam fase (tidak damai dan tidak perang) di tengah keterlibatan regional sekitarnya dan goyahnya rekonsiliasi antara Hamas dan Fatah yang berkeras melanjutkan penyelesaian kompromi dengan penjajah Zionis meskipun yang disebut terakhir tidak komitmen dengannya.

Pakar keamanan Mahmud Ajrami menegaskan bahwa penjajah Zionis belakangn ini menempuh kebijakan “mengginggit kekuatan-kekuatan” (Palestina) dan menguras perlawanan antara dua perang, dan ini adalah taktik militer dan keamanan terkenal di kalangan lawan dengan tujuan untuk menguras dan melemahkan pihak lain.

Dalam dua bulan terakhir Jalur Gaza mengalami gempuran berulang-ulang ke pos-pos dan terowongan perlawanan yang dilakukan pasukan penjajah Zionis, dengan dalih jatuhnya roket di pinggiran Gaza. Sementara kendaraan-kendaraan berat penjajah Zionis berpacu dengan waktu dalam membangun tembok semen yang memisahkan perbatasan.

Ajrami menambahkan, “Ini yang selalu terjadi antara dua perang untuk mencegah perlawanan mengakumulasikan kekuatan dan persiapannya sampai tidak memiliki kesiapan untuk perang yang akan datang. Israel menempuh siasat seperti itu dari tahun 2006 dan bahkan sampai tahun 2018, dan perlawanan menjadi target Israel. Dan untuk itu Israel mengerahkan upaya intelijen yang besar.”

Bukan hanya Lieberman saja yang mengisyaratkan agresi ke Jalur Gaza. sebelumnya Menteri Keamanan Dalam Negeri Israel Gilad Ardan, “Hamas akan mengalami gempuran yang membuatnya kehilangan kekuasaan di Gaza, apabila mengulang kesalahannya pada kami.”

Menteri Pertanian Israel Ory Ariel juga berbicara tentang serangan yang keras kepada para pemimpin gereakan Hamas dan perlawanan.

Dan nampak jelas bahwa penjajah Zionis dari pekan ke pekan lain melancarkan serangkaian serangan dengan dalih yang menjadi target adalah terowongan dan pos-pos perlawanan. Terakhir adalah serangan ke terowongan dekat gerbang Karem Abu Salem. Sehingga jumlah target yang digempur penjajah Zionis sejak akhir Oktober 2017 lalu lebih dari 44 target milik perlawanan.

Pakar militer Washif Urekat mengatakan bahwa untuk tahap sekarang ini penjajah Zionis fokus dalam bank targetnya untuk menyerang terowongan, namun juga menempatkan para pimpinan militer perlawanan dalam prioritasnya, begitu juga para elit perlawanan. Hal itu dilakukan khawatir terjadi aksi di belakang garis pertahanan Israel apabila meletus perang.

Menurut Urekat, kegagalan menundukkan kehendak Palestina mendorong penjajah Zionis menggunakan cara-cara hukuman kolektif terhadap warga sipil. Hal itu dilakukan untuk menambah tekanan pada warga biasa dan ini diprediksi akan gagal juga.

Lebih lanjut dia mengatakan, “Krisis kehidupan dan agresi militer yang dilakukan pada target-target terbatas saat ini adalah bukti kelemahan dan realita Gaza yang sulit. Namun tidak akan memilik pada Israel. Karena tindakan yang dilakukan penjajah Zionis menunjukkan pengakuan implisit akan keunggulah semangat juang Gaza.”

Mimpi Buruk Terowongan

Jalan untuk menjatuhkan Gaza dalam kesadaran Israel  dimulai dari menghancurkan mimpi buruk terowongan yang digunakan perlawanan. Dan melalui terowongan ini, perlawanan telah membuat serangan strategis di jantung dan pertahanan keamanan Israel dari tahun 2006-2014, termasuk menyandera serdadu Israel dan melancarkan aksi-aksi berkualitas.

Menurut Ajrami, di tengah-tengah kebijakan untuk menekan Jalur Gaza saat ini, penjajah Zionis menaruh perhatian untuk mengungkap terowongan-terowongan, pabrik-pabrik dan gudang-gudang roket. Dalam beberapa bulan terakhir, unit khusus telah dirancang dengan peralatan canggih untuk mendeteksi dan menarget terowongan-terowongan tersebut.

Lebih lanjut Ajrami mengatakan, “Terowongan-terowongan tersebut adalah ancaman setrategis bagi penjajah Zionis. Menurut laporan resmi, perang Israel dalam perang terakhir adalah perang buta menghadapi terowongan. Dan laporan Pengawas Keuangan Negara Israel, Shapira, menjelaskan bahwa bagian tengah celah antara Netanyahu, Gantz dan Ya’alon dalam perang ini adalah masalah terowongan tersebut.”

Konfrontasi dengan penjajah Zionis selama tahun 2017 cukup panas. Penjajah Zionis telah melakukan 11 manuver atau latihan militer yang fokus pada penyusupan para pejuang ke dalam wilayah Israel, munculnya para pejuang dari terowongan-terowongan tersebut, perang jalanan, dan serangan-serangan kilat ke desa-desa dan kota-kota yang mensimulasikan komunitas-komunitas di Jalur Gaza dan Libanon selatan.

Infrastruktur

Aset perlawanan dan cadangan kekuatan terletak di front internal yang menunjukkan simpati dan kerjasama sepanjang perjalanan sejak dimulai perang-perang yang terjadi ke Jalur Gaza dan blolade dari tahun 2006-2018.

Ajrami menyatakan bahwa Jalur Gaza jatuh dari sisi militer. Jalur Gaza tidak mengombinasikan medan keras yang mendukung perlawanan, tidak memiliki jalur pasokan, dan penjajh Israel berusaha mencatat kekalahan politik dengan melancarkan agresi untuk mengubah realitas Gaza dan memulangkah kembali serdadunya yang disandera.

Kerja militer biasanya melewati tiga fase. Yang pertama adalah kerja administratif untuk memaksa penyerahan diri dan menghancurkan spirit dan keamauan melalui perang psikologis. Yang kedua adalah serangan yang mengejutkan. Jalur Gaza telah mengalami pengalaman mengejutkan, terutama gempuran perang tahun 2008 pada hari pertama, dan yang terakhir adalah serangan ofensif dan kebijakan bumi hangus.

Lebih lanjut Ajrami mengatakan, “Sampai sekarang realita negara-negara yang terganggu oleh sikap Trump tidak mendukung penjajah Zionis untuk melancarkan perang. Karena itu Jalur Gaza akan mengalami tahap pengurasan yang difokuskan pada potensi perlawanan dan gerakan-gerakan pembebasan, pertempuran kehendak dan peperangan moral untuk mengkumulasikan poin-poin kekuatan dan bukan untuk penyelesaian lapangan yang komprehensif.

Sedang Urekat membaca tahap sekrang ini sebagai kesibukan penjajah Zionis melancarkan serangan terhadap infrastruktur dan menciptakan ledakan akar rumput untuk melawan perlawanan, dengan tetap membiatkan palu di atas kepala Gaza sebagai bagian dari kebijakan membuat titik-titik serangan.

Antara siasat melakukan tekanan dan isyarat serangan ada upaya Israel yang tidak boleh diabaikan berkaitan dengan rencana untuk membolak-balik kartu antara Gaza dan Mesir, serta untuk mendapatkan keuntungan dari kehadiran ekstremis di Sinai untuk melemahkan kekuatan perlawanan di perbatasan Mesir, demikian menurut para pengamat. (aa/was/pip)

Related Articles

Add Comment