Samir Abu Ni’mah, 32 Tahun Diapit 4 Tembok Israel

Category: Artikel 60 0

1752052112Kispa.org – Ramallah

Samir Ibrahim Mahmud Abu Ni’mah, warga asal kampung Syaikh Jarah di kota al-Quds ini harus menjalani hidup sebagai tawanan di penjara Zionis seumur tanah airnya yang dirampas. Lelaki berusia 58 tahun ini bisa dibilang tawanan asal al-Quds yang paling lama mendekam di dalam penjara Zionis. Dengan terpaksa, sel-sel sempit penjajah Zionis menjadi rumahnya.

Jalan Perjuangannya

Wail Abu Ni’mah, adik kandung Samir Abu Ni’mah, kepada koresponden Pusat Informasi Palestina menceritakan. “Waktu itu dia masih muda, sama seperti para pemuda lainnya yang berusia 26 tahun. Setelah menyelesaikan pendidikan sekolah menengah umum, dia melanjutkan pendidikan menejemen perhotelan dan bekerja di bidang yang sesuai dengan pendidikannya. Kala itu dia masih muda.”

Sebagaimana kebanyakan dari keluarga tawanan, keluarga Abu Ni’mah tidak tahu apa yang dilakukan anaknya untuk tanah air. Mereka tidak tahu afiliasi organisasi dan aktivitasnya dalam melakukan perlawanan menentang penjajah Zionis. Hal itu pula yang ditegaskan saudara kandungnya, Wail Abu Ni’mah.

Pada 20 Oktober 1986, Samir Abu Ni’mah ditangkap. Kala itu dia masih muda yang masih bergolak penuh semangat dalam mimpi-mimpinya. Selama dua bulan dia menjalani pemeriksaan, sampai kemudian dibacakan vonis penjara seumur hidup dan dijebloskan ke penjara Zionis Raymon.

Keluarganya kemudian tahu, bahwa ternyata anaknya yang berusia 26 tahun tersebut adalah seorang pejuang berani mati kelas satu. Telah melakukan banyak aksi. Di antaranya menikam serdadu penjajah Zionis dan ikut dalam aksi peledakan sebuah bus Zionis di Jaffa.

Bermacam Penyakit

Berbagai rasa sakit dialami Samir Abu Ni’mah. Rasa sakit dari kenangan interogasi yang mewariskan sakit yang terus dialaminya selama bertahun-tahun. Rasa sakit mengenang keluarga dan ibu yang ditinggalkannya. Rasa sakit dari obsesi dan mimpi-mimpi yang dibelenggu bersama dirinya di dalam penjara.

Seperti diceritakan saudara kandungnya, Wail, Samir Abu Ni’mah mengalami banyak masalah kesehatan. Dokter di klinik penjara Zionis di Ashkelon, di mana Abu Ni’mah saat ini berada, sengaja melakukan siasat pembiaran medis terhadapnya.

Wail mengatakan, “Kami sudah berusaha untuk mengirim seorang dokter khusus sebagai ganti dari dokter yang ada di penjara Ashkelon, namun sampai sekarang belum bisa.”

Keluarga Abu Ni’mah menegaskan bahwa Samir Abu Ni’mah menderita gangguran pada pangkal saraf di lehernya. Sakit ini mempengaruhi persendiannya. Yang menyebabkan rasa sakit yang sangat di tubuh dan persendianya. Dia juga menderita rasa sakit parah di kakinya. Dan dipastikan dia menderita HNP atau hernia tulang belakang, dan tidak tahan berdiri dalam waktu lama.

Dengan dinginnya suhu di musim dingin, kesehatan Abu Ni’ah semakin memburuk. Pandangan menjadi sangat ringan kabur dan rasa sakit permanen di giginya.

Karena banyaknya sakit yang dialami oleh Abu Ni’mah, tidak mudah menghitungnya. Selain yang disebutkan semua itu, dia sudah menderita rasa sakit yang menemaninya sejak diinterogasi bertahun-tahun yang lalu, dan di pusat saraf daerah tulang belakang juga mengalami masalah penyakit.

Setahun yang dia lewati masa penahanan, telah mewariskan padanya gangguan pada seluruh kelima inderanya. Lebih dari 6 kali menjalani operasi di berbagai tubuhnya, sebagiannya ada yang berhasil, dan sebagian yang lainnya masih harus proses lanjutnya yang tidak disediakan oleh pihak penjara.

Berpindah-pindah Penjara

Samir hidup berpindah-pindah dari satu penjara ke penjara lainnya, mulai dari pusat tahanan Maskubiyah, rumah sakit penjara Ramleh, penjara Raymon, penjara Shata, penjara Ashkelon dan sejumlah penjara lainnya yang tidak bisa dihitung oleh keluarganya. Bertahun-tahun lamanya dia habiskan untuk mendekam berpindah-pindah, sampai akhirnya dia menetap di penjara Ashekelon. Di sinilah dia akan menghabiskan sisa umurnya.

Sempat ibunya menunggu pembebasan anaknya, Samir Abu Ni’mah, dengan gembira melalui perundingan yang terjadi antara Otoritas Palestina dan penjajah Zionis. Namun ternyata nama anaknya masuk daftar pengecualian di antara sejumlah nama tawanan yang akan dibebaskan. Ibunya tetap menunggu pembebasan Samir sampai meninggal tiga tahun kemudian setelah menjalani penahanan.

Seperti keluarga para tawanan Palestina yang sudah mendekam bertahun-tahun lamanya di dalam penjara penjajah Zionis, termasuk 13 tawanan dari al-Quds, keluarga Abu Ni’mah sudah berhenti menghitung tahun-tahun, terpaksa berhenti mengharap, bagaimana kabar dan kondisi Abu Ni’mah di dalam penjara? Bagaimana mimpinya telah menyusut dari dunia yang terbuka ke dalam belenggu empat dinding, yang dia tidak akan mungkin keluar darinya kecuali atas perintah sipir penjara dan sesuai dengan keinginannya? (aa/was/pip)

Related Articles

Add Comment