Israel Takut Fatah Masuk Garis Konfrontasi Bersama Hamas, Kenapa?

Category: Artikel 35 0

-256697810Kispa,org – Gaza

Pernyataan petinggi Gerakan Fatah Ahmad Ghanim dalam wawancara dengan televisi Zionis telah memicu ketakutan analis Israel, ketika Ghanim membela Gerakan Hamas dan menyebut Hamas sebagai komponen utama struktur Palestina.

Ghanim mengatakan bahwa gerakan Hamas adalah bagian dari komponen politik dan nasional Palestina, seiring dengan semua gerakan perlawanan dan faksi-faksi yang sedang berjuang melawan penjajah Zionis Israel.

Lebih lanjut Ghanim menambahkan bahwa gerakan Hamas layak untuk menduduki posisi terhormat di samping Gerakan Fatah, karena Hamas adalah gerakan perlawanan yang berjuang melawan penjajah dan mengalahkannya lebih dari sekali, sebagaimana yang dilakukan Gerakan Fatah di banyak stasiun sejarah.

“Kami bangga karena kami memiliki gerakan-gerakan perlawanan yang berjuang melawan penjajah,” tegas Ghanim.

Pernyataan-pernyataan inilah yang membuat marah analis politik Israel Golan Barhoum. Dia menuduh Ghanim membela Hamas. Dia mengklaim bahwa Israel bercita-cita untuk menjalin kemitraan dan koordinasi dengan orang-orang Palestina di Tepi Barat.

Apa yang Ditakurkan Israel?

Sebelum pernyataan Ghanim ini, sudah ada ketakutan dari pihak penjajah Zionis akan langkah gerakan Fatah untuk segera bergabung dalam apa yang disebut oleh Israel sebagai “gelombang kekerasan” bersama gerakan Hamas melawan penjajah Zionis.

Menurut TV Zionis, berlanjutnya langkah untuk memburu pelaku aksi serangan di Ariel yang menewaskan seorang rabi Yahudi, di saat Israel memburu pelaku aksi serangan di Nablus, telah meninggalkan ketakutan akan bergabungnya gerakan Fatah bersama gerakan Hamas dalam konfrontasi mendatang untuk melawan penjajah Zionis.

Ketakutan Israel ini bersamaan dengan aksi-aksi spektakuler yang kembali terjadi di Tepi Barat, setelah terjadi kebuntuan politik antara Otoritas Palestina dan Israel pasca deklarasi Presiden AS Donald Trump yang mengakui al-Quds sebagai ibukota bagi negara penjajah Zionis.

Dukungan yang diberikan rakyat kepada pejuang Palestina Ahmad Nashar Jarar, sebelum gugur, merupakan perlawanan yang belum pernah terjadi sebelumnya melawan keamanan Israel sejak meletus intifadhah al-Aqsha. Itulah yang dikhawatirkan Israel, yang akan merubah Tepi Barat menjadi bom waktu melawan penjajah Zionis.

Spesialis dalam urusan Zionis, Ayman Rafati, mengatakan bahwa penjajah Zionis takut akan persatuan sikap Palestina. Terutama berkaitan dengan perlawanan. Karena hal ini akan benyak membebani Israel dari sisi politik, keamanan dan militer, juga menghalangi kelancaran rencana untuk menguasai Tepi Barat dengan penuh melalui permukiman-permukiman Yahudi dan aksi-aksi yahudisasi.

Menurut Rafati, Israel takut kedekatan Hamas dan Fatah ini bisa mengobarkan intifadhah Palestina lebih komprehensi di semua level. Hal ini bisa mengakibatkan kegagalan semua rencana Zionis yang bertujuan untuk menghabisi isu Palestina pada periode sekarang ini.

Kepada Pusat Informasi Palestina, Rafati menyatakan bahwa pendekatan baru dan suara korektif yang sudah mulai muncul di kalangan beberapa pemimpin Fatah seperti Ghanim, menegaskan adanya kesadaran terhadap rencana-rencana penjajah Zionis.

Suasana Telah Siap

Ada indikasi-indikasi di lapangan yang membuat takut negara penjajah Zionis bahwa generasi baru Palestina baik dari Hamas atau dari Fatah di Tepi Barat meyakini dengan keyakinan yang mendalam pada kerja perlawanan. Menurut Rafati, ada indikasi lain yang membuat takut penjajah Zionis, yaitu tumbuhnya sel-sel militer perlawanan yang telah disesuaikan dengan realita keamanan yang kompleks di Tepi Barat. Sel-sel ini masih bekerja dan menarget penjajah Zionis dengan aksi-aksi spektakuler, meskipun penjajah Zionis sudah melakukan semua rencana dan langkah keamanan untuk manarger perlawanan di sana.

Dia menambahkan, “Ada ketakutan akan kembalinya realitas orang-orang yang menjadi buron di Tepi Barat, yang dapat memicu semangat perlawanan dan mendorong banyak orang Palestina untuk melakukan aksi-aksi baru, yang ‘membuat pusing’ penjajah Zionis dan menjadikannya dalam ketakutan keamanan yang besar.”

Apa yang disampaikan Rafati ini diperkuat oleh surat kabar Zionis “Israel Today” bahwa untuk kali ini militer mendorong “Brigade Khusus” termasuk di dalamnya adalah pasukan khusus, ke Tepi Barat. Di saat yang sama, prediksi-prediksi keamanan dan militer mengisyaratkan bahwa suasana telah siap untuk melakukan aksi-aksi lebih banyak lagi yang diilhami oleh dua aksi terakhir “Gilad” dan “Ariel”.

Sementara itu operasi untuk memburu dan mencari pemuda Palestina Abdul Hakim Ashi, pelaku aksi Ariel, yang menewaskan seorang rabi Yahudi, masih terus berlangsung. Prediksi-prediksi keamanan Zionis mengisyaratkan target ada di daerah Nablus.

Suara Nasional

Sementara itu spesialis urusan Zionis, Adnan Abu Amir, berpendapat bahwa pernyataan yang disampaikan petinggi gerakan Fatah Ahmad Ghanim merupakan model dan contoh suara umum nasional.

Kepada Pusat Informasi Palestina, Abu Amir menyatakan bahwa pernyataan-pernyataan yang menegaskan bahwa semua kalangan berdiri melawan penjajah Zionis, yang tidak membedakan warna kulit dan golongan, bisa menjadi pengungkit yang meningkatkan kerja perlawanan Palestina.

Situs Zionis “Monitor” pada akhir tahun 2017 lalu menerbitkan studi, yang isinya mengungkap ketakutan utama Israel akan bergabungnya gerakan Fatah ke “gelombang kekerasan” melawan penjajah Zionis Israel.

Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel Gadi Eisenkot memutuskan untuk mengirim tiga batalyon militer ke Tepi Barat, khawatir terjadi kembali gelombang aksi-aksi perlawanan.

Gerakan Fatah Historis

Analis politik Shalahuddin Awawidah menegaskan, ada pimpinan Fatah yang disebutnya “loyalis Arafat” bertemu dengan Hamas dan mereka siap kerjasama dengan Hamas dan bertemu dalam program-program nasional. Mereka adalah gerakan Fatah historis yang memiliki proyek nasional dan bukan kelompok oportunis di Otoritas Palestina.

Kepada Pusat Inforamsi Palestina, Awawidah menyatakan bahwa penjajah Zionis masih takut terhadap orang-orang nasionalis di pimpinan Fatah. Israel takut Fatah kembali ke bingkai perlawanan. Untuk itu Israel mengisolasi Marwan Barghoutsi di dalam penjara dan mengisolir orang-orang semisalnya di luar penjara.

Gerakan Fatah telah absen dari perlawanan secara umum di Tepi Barat, setelah bergabung dalam pimpinan Otoritas Palestina yang melakukan koordinasi keamanan dengan penjajah Zionis.

Menurut Awawidah, penjajah Zionis takut akan bahaya persatuan nasional Palestina yang mengancam proyek-proyek Zionis. Untuk itu penjajah Zionis berusaha menggagalkan rekonsiliasi dan melanggengkan perpecahan internal Palestina. “Penjajah Israel, terutama di era Netanyahu, menginginkan para agen yang bekerjasama dengan Israel secara keamanan, dengan imbalan izin kerja dan berbisnis. Dan Israel sama sekali tidak menginginkan apapun bentuk kedaulatan Palestina.”

Awawidah menyerukan gerkan Fatah dan Hamas untuk bersatu. Karena ini adalah keharusan akibat kebuntuan yang dialami perundingan “kompromi”. Dia mengatakan, “Jika pilihan perundingan kompromi tidak mungkin, maka yang paling realistis adalah program perlawanan yang disepakati, meskipun dalam batas minimal.” (aaa/pip)

Related Articles

Add Comment