Rahasia Kunjungan Panjang Pimpinan Hamas di Kairo

Category: Artikel 16 0

84173854Kispa.org – Gaza

Lama kunjungan dan intensitas pertemuan pimpinan Hamas dengan pimpinan Mesir dalam salah satu kunjungan terpanjang ke ibukota Mesir, di tengah sedikit pemberitaan di media, menimbulkan spekulasi di kalangan para pengamat dan prediksi-prediksi tentang apa yang mungkin timbul dari pertemuan tersebut di tengah-tengah situasi politik terkait dengan isu-isu strategisnya.

Tidak kurang 21 pimpinan Hamas, baik dari dalam maupun dari luar, dipimpin Kepala Biro Politik Hamas Ismail Haniyah datang berkunjung ke Kairo. Dilanjut dengan pertempuan intensif dengan para petinggi Mesir. Ada yang mengatakan, pertemuan tersebut membahas banyak hal terutama masalah rekonsiliasi.

Bahkan tidak biasa, delegasi ini sampai datang dengan gelombang. Hal ini menjadi isyarat jelas perkembangan hubungan kedua belah pihak dalam membahas masalah secara estafet.

Seperti dikatakan anggota Biro Politik Hamas Khalil Hayyah, delegasi Hamas bersama dengan otoritas Mesir membahas masalah menyukseskan rekonsiliasi dan menghadapi kesepakatan (Trump).

Kunjungan Penting

Masyarakat Palestina, yang haus akan apa yang terjadi di balik koridor Kairo, melihar jauh dan menebak kondisi delegasi Hamas yang tinggal lama di Kairo dan sejauh mana keberhasilannya dengan pihak Mesir dalam menyebuhkan luka di Gaza. Bahkan sampai ada beberapa pihak menyebar desas-desus adanya tekanan yang dipaksakan pada delegasi Hamas tersebut.

Analis politik Hossam al-Dajni kepada Pusat Informasi Palestina mengatakan bahwa “masalah kunjungan pada pertemuan saat ini penting, termasuk keamanan, kesepakatan abad ini (deal of century), hubungan Hamas dengan kelompok reformis gerakan Fatah, cara bertransisi ke pilihan-pilihan baru seperti pembentukan pemerintah penyelamatan. Itu berarti pembahasannya mmbutuhkan waktu dan keseriusan yang lebih besar.

Abu Hamzah Abu Shanab melihat, lamanya kunjungan dan diizinkannya pimpinan biro politik Hamas mengadakan pertemuan-pertemuan internal dan eksternal mencerminkan perkembangan hubungan antara Hamas dan Kairo. Hamas masih diterima baik oleh sistem politik Mesir setelah ada penolakan akibat kondisi politik internal Mesir.

Menurutnya, rekonsiliasi menjadi sumber pembahasan. Buktinya adalah kunjungan kembali delegasi keamanan Mesir untuk memantau rekonsiliasi di Jalur Gaza dan kesepahaman seputar krisis kemanusiaan Gaza yang diterjemahkan untuk meringankan sebagian dan memasok barang-barang dari Mesir.

Rahasia atau Tekanan

Tidak sedikit kalangan, termasuk aktivis jejaring media sosial dan media, yang menilai bahwa apa yang terjadi ini merupakan tekanan Mesir pada pimpinan Hamas. Namun penilaian ini dibantah oleh analis politik Talal Okal. Dia mengatakan, “Tur ini rahasia, yang menegaskan bahwa kita berada pada tahap krusial dan jangka waktu yang panjang dengan persetujuan dan semangat dari Hamas.”

Dia yakin bahwa tur sekarang yang mencerminkan keseriusan Mesir dan Hamas dalam sejumlah isu penting rekonsiliasi, di antaranya adalah konsensus besar dan kunjungan delegasi Mesir ke Gaza beberapa hari yang lalu, itu menunjukkan adanya kesulitan-kesulitan dalam rekonsilasi.

Anggota Biro Politik Front Demoktatik, Talal Abu Dzarifah, mengungkapkan kalau dirinya tahu bahwa penjangnya kunjungan dan intensitas pertemuan ini sebabnya adalah upaya Kairo untuk menghasilkan sikap final Hamas seputar rekonsiliasi. Delegasi Fatah akan bertemuan Mesir dan Hamas dalam beberapa hari ini.

Gaza dalah Gerbang Mesir

Mesir memainkan peran yang berpengaruh dalam isu Palestina sebagai akibat dari kontak geografis dan politiknya secara langsung dengan Palestina, terutama Gaza, dan sebaliknya adalah hubungan Mesir dengan Amerika Serikat dan Israel.

Aksi teror yang terjadi di Sinai, menurut analis politik Hossam al-Dajni, menjadikan pimpinan Mesir berfikir secara mendalam bahwa Jalur Gaza merupakan pintu masuk penting untuk pembangunan melalui pemberdayaan gerbang Rafah agar menjadi gerbang ekonomi yang membantu kedua belah pihak.

Piagam politik Hamas yang diluncurkan pada 1 Mei 2017 lalu juga menyatakan tentang identitas gerakan Hamas secara jelas, yang menegaskan bahwa gerakan Hamas tidak ada kaitan dengan Ikhwanul Muslimin. Hal inilah yang membuat perubahan meskipun kecil pada sikap Mesir terhadap gerakan Hamas.

Setahun lalu Hamas dan Mesir memulai babak baru kerjasama di perbatasan dengan mendirikan zona keamanan, setelah terjadi peningkatan serangan ISIS pada militer dan desa-desa Mesir di Sinai, bentuk kejahatan yang dikecam oleh Hamas.

Menurut Hossam al-Dajni, Kairo ingin mendapatkan peran yang memainkan peran Qatar dan Mesir di Gaza setelah bertahun-tahun putus dengan Mesir, yang telah memberi negara-negara yang disebut Mesir sebagai musuh politik, untuk mengisi kekosongan.

Anggota Biro Politik Front Demoktatik, Talal Abu Dzarifah, berpendapat bahwa Mesir tahun kekuatan Hamas dalam perimbangan kawasan. Karena itu Mesir punya kepentingan dengan Hamas untuk meluruskan kancah politik guna menghadapi setiap penyelesaian politik di kawasan.

Pada saat yang sama, Hamas yang terkepung di Gaza, dengan intensifikasi rencana Amerika-Israel, berharap bisa mendapatkan pemahaman baru tentang kediktatoran geografi, karena Mesir adalah satu-satunya paru-paru bagi Gaza yang menghubungkannya dengan dunia. (aa/was/pip)

 

Related Articles

Add Comment