Reporter Cilik Jihad Tamimi: Rindu Kebebasan dan Benci Penjajahan

Category: Artikel 3 0

646581311Kispa.org – Hebron

Dengan bahasa seperti orang dewasa dan politisi, bocah Palestina menggoncang dunia dengan pernyataannya dan aksi liputannya yang mempermalukan Israel, Jenny Jihad Tamimi (11) dari kota Nabi Shalih, Ramallah Barat.

Jenny lahir di Amerika, dan berpindah ke Ramallah, hidup dengan ibu dan neneknya di kota Nabi Shalih, berusia 11 tahun, duduk di kelas 6 sekolah dasar di desanya, turut serta dalam aksi unjuk rasa dan demonstrasi dari depan rumahnya sejak berusia 3 tahun.

Mulai mengambil gambar dan liputan lapangan terkait demonstrasi dan bentrokan dengan Israel sejak usia 7 tahun lewat sambungan telephone genggam milik ibunya, dan menjadi wartawan termuda di dunia.

Jenny ikut serta dalam sejumlah konfrontasi bersama rekan-rekannya dan puteri pamannya Ahed Tamimi. Jenny pernah menantang tentara Israel dan menghadapinya dengan berani. Jutaan penonton mengikuti aksi Jenny di medsos saat melakukan liputan di lapangan. Setahun lalu Jenny meraih penghargaan internasional “Kebaikan Internasional” yang diterimanya dari Presiden Turki, Rejep Thayep Erdogan yang menyambutnya di Istanbul, dan ketika Jenny mengundangnya untuk mengunjungi Palestina, Erdogan menjawab, “Saya akan mengunjungi Palestina ketika sudah merdeka.”

Aksi Jenny membuat aparat intelijen Israel terganggu, dan membahayakan Negara zionis. Menurut mantan Presiden Uni Eropa, langkah Jana mengancam Israel karena mampu membalik realitas yang berupaya dibangun Israel terhadap Palestina.

Koresponden Pusat Informasi Palestina berhasil mewawancarai Jenny yang menggunakan dua bahasa, Arab dan Inggris.

Siapakah Jenny yang menggoncang dunia dengan liputan dan aksinya?

Aku adalah bocah Palestina yang yakin dengan persoalan ini, dan bekerja serius untuk menginformasikan kepada dunia, aku sadar, aku adalah bocah kecil terhadap kejahatan penjajah Israel terhadap rakyat Palestina, yang telah membunuh orang-orang terdekatku, hal ini membuatku sedih dan menangis, maka sejak kecil aku bertekad untuk menghadapi penjajah dengan aksi lapangan maupun media.

Bagaimana memulai aksi dan dari mana?

Aku dilahirkan di Amerika tempat ayahku bekerja. Setelah kelahiranku, ayah memutuskan untuk mengembalikan kami ke Palestina. Aku tumbuh di kota Nabi Shalih bersama nenek dan ibuku. Separuh dari kota kami disita penjajah dengan pembangunan tembok pemisah rasial, hal ini memicu aksi unjuk rasa warga setiap pekan memprotes tembok pemisah dan penyitaan tanah.

Aksi unjuk rasa ini berlangsung di depan rumah kami, kerap kali tembakan gas air mata menimpa rumah kami, kami berteriak, menangis dan merasakan sakit. Saking banyaknya, aku pernah menggantungkannya di dahan pohon jeruk dan zaitun di rumah kami, dan saat ini masih ada. Dari sini semangat nasionalisme tertanam di sanubariku. Kemudian aku bersama anak-anak lainnya ikut serta dalam demonstrasi, kami berjalan di samping relawan asing yang peduli Palestina, aku memakai topi Palestina dan memakai syal di leherku, dan memakai ikat Palestina di kepalaku.

Kamu dijuluki sebagai wartawan termuda di dunia, bagaimana hal itu terjadi?

Ketika aku berusia 7 tahun, aku memutuskan untuk menginformasikan penderitaan bangsa kami kepada dunia, tindakan penjajah Israel membunuh dan menumpahkan darah yang aku saksikan di tanah kami dan di antara pepohonan zaitun, serta penyitaan tanah di kota kami, penebangan zaitun, penggusuran rumah, semua terekam dalam benakku, maka aku berinisiatif menginformasikannya kepada dunia. Maka aku mulai mengambil gambar lewat hand phone milik ibuku, dan aku kirimkan via facebook kepada teman-temanku. Kemudian ke jejaring social lainnya, dari sini permulaannya. Selanjutnya aku mengirimkan pesan berita lewat video singkat. Dengan dibantu oleh pamanku, Bilal Tamimi yang bekerja sebagai wartawan fotografer yang mencatat dan mendatanya. Dan mengajariku melakukan liputan media dan teknis mengambil gambar.

Apakah kamu bekerja untuk media atau kantor berita tertentu?

Sama sekali tidak, aku adalah siswi di sekolah, aku mengambil gambar dan mengirimkan berita dengan dua bahasa, Arab dan Inggris via facebook dan medsos lainnya di akunku dengan 35 ribu follower. Sementara video singkat telah tayang dan dilihat oleh lebih dari 22 ribu pemirsa. Aku telah mengirimkan ratusan liputan, artinya jutaan pemirsa melihatnya di internet, hal ini membuat otoritas Israel terganggu.

Apakah kamu mahir bahasa Inggri dan kamu gunakan dalam tulisan dan laporan media?

Aku memahami bahwa bahasa Inggris merupakan bahasa komunikasi dunia, sehingga ketika aku ingin menyampaikan pesan kepada dunia, maka aku harus mempelajarinya. Ibuku membantu mengajariku dan mengatakan bahwa aku harus belajar bahasa Inggris. Dan Alhamdulillah saat ini aku lancar berbicara dan menulis dalam bahasa Inggris. Dan melakukan wawancara dengan media dan tv internasional berbahasa Inggris. Hal ini membuat Israel terganggu dan mulai memantau liputanku satu persatu.

Jenny, kamu mahir bahasa politik dalam laporanmu, dari mana kamu dapat hal itu?

Sejak kecil, aku suka mendengar siaran berita. Aku tidak menonton film kartun seperti anak-anak lainnya, tetapi aku melihat siaran berita secara terus-menerus. Dan aku terpukul dengan kasus pembunuhan anak-anak, penangkapan mereka, dan kadang aku menangis karenanya. Di samping aku ikut serta dalam aksi unjuk rasa dan mendengar ungkapan orasi dalam unjuk rasa, semua itu membuat wawasan politik bagiku, dan membantuku dalam membuat laporan berita yang aku rilis di facebook.

Kamu ingin menyampaikan pesan dari kerjamu ini, apakah pesan itu?

Pesanku kepada dunia bahwa kami adalah generasi mendatang Palestina, yang ingin hidup dengan damai, aman, jauh dari bahasa darah. Aku ingin mengatakan kepada dunia, “Bangsa Palestina ingin kebebasan dan kemerdekaan dengan aman, kami tidak suka bahasa darah yang ditanamkan penjajah.” Kami katakan kepada penjajah Israel,”Meski kalian bunuh kami dan anak-anak Palestina, maka kami berhak untuk hidup mulia, bebas dan aman. Kami menolak penjajahan atas tanah kami, kami menolah penyitaan tanah, kami menolak tindakan pembunuhan dan penangkapan terhadap bangsa kami, kami pemilik persoalan Palestina, dan pasti kami akan kembali.”

Apakah moment yang membuatmu sedih dan menangis saat liputan?

Yang paling membuatku sedih adalah gugurnya temanku dan sepupuku, Musthafa Tamimi, yang gugur di depanku terkena tembakan gas air mata. Juga gugurnya pamanku, Rusydi Tamimi yang ditembak Israel di depanku, darahnya mengalir di tanah, aku berteriak dan menangis. Moment itu tak akan pernah aku lupa, juga penangkapan teman dan juga sepupuku, Ahed Tamimi, saat aku bangun jam 3 pagi mendengar tembakan gas air mata dan suara bising di depan kamarku. Lalu aku keluar menuju rumah Ahed, dan ratusan tentara Israel berada di rumah Ahed, membawa Ahed dengan kondisi diborgol, dan dibawa dengan mobil tahanan dengan mata ditutup, aku tak bisa mendekatinya, kemudian aku masuk rumah, dan aku lihat rumahnya sudah diobrak-abrik Israel, pakaian dan buku-buku berserakan, hal ini sangat menyakitkanku. Dan mungkin peristiwa terakhir yang membuatku menangis dan sangat bersedih, adalah deklarasi Trump bahwa al-Quds ibukota Israel.

Semua itu membuatku harus ikut serta dalam aksi massa dan media dalam upaya memperjuangkan persoalan Palestina.

Israel telah mengumumkan bahwa kamu membayakan mereka, apa pendapatmu?

Silahkan Israel mengumumkan apa yang diinginkannya, aku tidak melakukan hal di luar hukum, aku hanya bekerja di media yang legal secara internasional, namun Negara penjajah justru yang bekerja melanggar hukum dan HAM, membunuh, menghancurkan, menangkap, menggusur rumah dan menyita tanah serta membangun koloni permukiman di luar hukum.

Sekolah apa yang kamu inginkan dan kemana rencana masa depanmu?

Saat dewasa nanti, aku ingin belajar ilmu politik, sehingga aku mengerti persoalan dan masa depan Palestina. Bagaimana kami bisa berdaulat dan merdeka. Atau aku bisa belajar jurnalisme agar bisa membantu Palestina. Juga aku ingin belajar menggambar untuk menceritakan penderitaan Palestina dan menginformasikannya kepada dunia. Dan juga kepada anak-anak di dunia agar mengetahui apa yang menimpa rekan-rekan mereka di Palestina, atau menjadi pemain bola untuk mengusung nama Palestina, atau seniman yang bisa memberikan warna baru bagi Palestina. (aa/pip)

Related Articles

Add Comment