Rencana “E1”, Proyek Paling Bahaya Pisahkan al-Quds dari Tepi Barat

Category: Artikel 6 0

654155229Kispa.org – Al Quds

Otoritas penjajah Zionis Israel sedang berusaha memanfaatkan keputusan Presiden Amerika Donald Trump yang mengakui al-Quds atau Yerusalem sebagai ibukota entitas Zionis dan pemindahan kedubes Amerika ke al-Quds, untuk melaksanakan proyek pembangunan permukiman Yahudi paling berbahaya di kota al-Quds, yang dikenal dengan “Rencana E1”. Rencana ini dengan sendirinya akan memisahkan al-Quds secara total dan secara keseluruhan dari wilayah Palestina.

Proyek ini diumumkan tahun 1994 di atas wilayah seluas 12.443.000 meter persegi dari tanah desa at-Tur, Anata, Izariyah dan Abu Deis. Rencana yang disetujui tahun 1997 oleh Menteri Militer Zionis Yitzhak Mordechai (kala itu), ini bertujuan untuk mendirikan kawasan industri di atas tanah seluas 1 kilometer persegi, pendirian 4000 unit permukiman Yahudi dan 10 hotel.

Rencana Paling Bahaya

Pakan dan peneliti masalah permukiman Yahudi Khalil Tafkaji menyebut rencana ini adalah rencana Zionis paling berbahaya bila sudah dilaksanakan. Direktur Peta dan Sistem Informasi di Association of Arab Studies ini menghubungkan hal tersebut dengan beberapa alasan.

Di antara alasan yang paling penting adalah penutupan wilayah timur dari wilayah al-Quds sepenuhnya, pengepungan daerah-daerah (Anata, at-Tur dan Hazma) dan tidak ada kemungkinan perluasan di masa depan ke arah Timur. Rencana ini juga mencegah pendirian al-Quds timur sebagai ibukota Palestina dan mencegah kemungkinan pengembangannya ke arah timur. Rencana ini juga menghubungkan semua koloni Yahudi yang terletak di wilayah timur dan di luar perbatasan kotamadya penjajah Zionis dengan koloni-koloni Yahudi di dalam perbatasan kotamadya al-Quds, dengan demikian akan mengubah desa-desa Arab menjadi kantong-kantong yang dikepung oleh koloni-koloni Yahudi.

Selain juga untuk pendirian Yerusalem Raya menurut konsep Israel yang luasnya setara dengan 10% luas wilayah Tepi Barat, serta menciptakan perubahan mendasar pada persoalan demografi Palestina untuk kepentingan penjajah Zionis Israel.

Kompleks permukiman Yahudi Ma’ale Adumim termasuk di dalamnya adalah permukiman-permukiman kecil yang menginduk ke kompleks permukiman tersebut, di tambah kawasan perluasan yang dikenal dengan “Rencana E1”, merupakan proyek permukiman Yahudi paling berbahaya yang berdiri di atas tanah al-Quds, karena mengancam keterhubungan dan ketersambungan wilayah Palestina.

Kompleks koloni Adumim terletak di dataran yang membentang di timur al-Quds, yang merupakan wilayah paling penting dan paling vital untuk pengembangan dan pertumbuhan alami Palestina dan untuk kelangsungan hidup negara Palestina di masa depan.

Daerah ini merupakan lokasi strategis yang penting karena dinilai sebagai pusat geografis Tepi Barat serta menghadap ke Kota Suci dan Lembah Yordan. Di daerah ini, seperti di daerah-daerah lain di Tepi Barat, ada kegiatan-kegiatan pemukiman ilegal “Israel” yang melebihi rencana regional Zionis atas kepentingan Palestina dan upaya internasional untuk mewujudkan perdamaian.

Permukiman-permukiman Ilegal Yahudi

Penjajah Zionis Israel telah mendirikan sejumlah permukiman ilegal Yahudi di semua penjuru daerah ini. Di antaranya adalah kompleks permukiman Yahudi Ma’ale Adumim, Almon, Kafar Adumim, Alon, Kedar, dan Mishor Adumim, dengan jumlah total pemukim Yahudi yang tinggal di permukiman-permukiman ini mencapai 47.500 pemukim Yahudi.

Kompleks permukiman Ma’ale Adumim adalah permukiman Yahudi terbesar di antara permukiman-permukiman tersebut. Jumlah penduduknya mencapai 41 ribu dan luas daerah pengaruhnya 50 kilometer persegi. Setara dengan luas daerah pengaruh kota Tel Aviv. Untuk diketahui bahwa jumlah pemukim Yahudi di permukiman Ma’ale Adumim tidak lebih dari 10% dari jumlah penduduk Tel Aviv. Meski demikian permukiman ini terus mengalami perluasan dan pertumbuhan yang stabil.

Sejak tahun 2001 penjajah Zionis Israel sudah mulai membangun tidak kurang dari 8 ribu unit rumah permukiman baru di kompleks permukiman tersebut sampai sekarang.

Sementara itu, 18 komunitas Badui yang dihudi sekitar 3.500 warga Palestina dari suku Jahalin, yang telah tinggal di daerah antara al-Quds Timur dan Lembah Yordan sejak tahun 1950-an, sedang menghadapi bahaya pemindahan paksa dan pengusiran dari daerah tempat tinggal mereka.

Arab Jahalin menghadapi ancaman pengusiran untuk yang ketiga kalinya, setelah mereka diusir dari daerah Nagev pada tahun 1948, mereka diusir dari daerah Ma’ale Adumim pada tahun 1998. Sekarang mereka menghadapi ancaman pengusiran dan pemindahan paksa kapan saja akibat perluasan permukiman Yahudi Ma’ale Adumim dan aktivitas pembangunan yang terus berlanjut di daerah “E1”.

Perluasan Permukiman-permukiman Yahudi

Sejak 1975, ketika inti permukiman Ma’ale Adumim dibangun dengan menempatkan sejumlah rumah-rumah mobil di lokasi tersebut, Israel telah memperluas permukiman-permukiman Yahudi yang berdiri di daerah ini untuk memperkuat kontrolnya atas Al-Quds Timur dan daerah Lembah Yordan, serta untuk menciptakan keterhubungan teritorial-kolonial antara kedua wilayah strategis ini.

Pada saat itu, Israel membangun jaringan jalan yang luas yang menghubungkan permukiman Ma’ale Adumim dengan permukiman-permukiman yang menginduknya dan dengan al-Quds Barat. Israel juga mendirikan jalan raya utama (Rute 1), yang melewati permukiman-permukiman Adumim dari sisi timur menuju Lembah Yordan.

Sekarang ini Israel sedang menyelesaikan pembangunan tembok di sekitar permukiman Ma’ale Adumim dan permukiman-permukiman yang menginduknya untuk memperkuat permukiman-permukiman ini dan memfasilitasi kemungkinan perluasannya di masa depan.

Tembok ini, yang menembus wilayah Palestina sepanjang 14 kilometer di timur perbatasan 1967, akan mengintegrasikan pemukiman Ma’ale Adumim ke wilayah entitas Zionis Israel, yang berarti menggusur 58 km tanah Palestina, menyempurnakan pengepungan al-Quds Timur dan membagi Tepi Barat menjadi dua bagian.

Pada saat “Israel” mengembangkan rencana ekspansi yang dikenal sebagai rencana E-1 untuk memperkuat koneksi geografis antara permukiman-permukiman Adumim dan Al-Quds Barat, maka berdasarkan rencana ini, akan dibangun unit-unit rumah koloni permukiman di atas tanah seluas 12 kilometer persegi di atas tanah Palestina di desa Anata, at-Tur, Isawiyah, Abu Deis dan Izariyah.

Meskipun menurut rencana tersebut tanah Palestina yang digusur sangat luas, jumlah unit-unit rumah yang akan dibangun tidak lebih dari 3.500 (yang dihuni sektiar 15.000 pemukim Yahudi). Sementara itu sebagian besar lahan yang telah diambil alih akan dialokasikan untuk pendirian proyek-proyekbesar untuk industri dan bisnis, termasuk kawasan industri, gedung perkantoran, pusat rekreasi dan olahraga, 10 hotel dan sebuah pemakaman besar.

Penggusuran Tanah

Pada bulan September 2007, tentara Israel mengeluarkan perintah militer untuk menyita seluas 1.128.000 meter persegi tanah Palestina yang terletak antara “Al-Quds Timur” dan permukiman Ma’ale Adumim untuk membuka jalan alternatif untuk orang-orang Palestina yang menghubungkan wilayah selatan di Tepi Barat dengan wilayah timur dan utara. Tanah yang disita ini termasuk milik warga Palestina dari desa Abu Dis, Sawahara, Nabi Musa dan Khan Ahmar. Rencananya rute jalan ini melewati bagian selatan dan timur dari tembok Adumim di luar blok permukiman Adumim. Pada akhir jalan ini menghalangi warga Palestina menggunakan jalan Rute 1, yang membentang melalui area E1, blok permukiman Adumim dan jalan Rute 60 yang membentang melalui al-Quds Timur.

Otoritas pendudukan Israel juga berniat membangun jalan lain sebagai bagian dari rencananya untuk membuat koneksi di jaringan transportasi Palestina, sementara para pemukim Yahudi yang tinggal di permukiman-permukiman ilegal terus menikmati keistimewaan ketersambungan geografi secara nyata antara blok permukiman Adumim dan al-Quds Barat.

Tidak mungkin diremehkan besarnya efek negatif dari pengintegrasian pemukiman-permukiman Ma’ale Adumim ke wilayah entitas penjajah Zionis Israel dan implikasinya terhadap kemungkinan pendirian negara Palestina yang layak, yang terhubung secara geografis dan merdeka dengan ibukota al-Quds timur.

Jika Israel menganeksasi permukiman-permukiman Ma’ale Adumim untuk dimasukkan ke wilayahnya, maka Al-Quds Timur akan kehilangan daerah-daerah yang tersisa terakhir yang bisa menjamin pertumbuhan dan pembangunan ekonomi al-Quds Timur di masa depan.

Selain itu, lokasi daerah ini dan ukuran yang besar akan memastikan menjamin kontrol Israel terhadap persimpangan jalan utama yang menghubungkan antara wilayah utara Tepi Barat dan selatan, secara permanen akan mengisolasi al-Quds Timur dari sisa wilayah Tepi Barat dan membagi Tepi Barat menjadi dua bagian. (aa/pip)

Related Articles

Add Comment