Di Perbatasan Gaza, yang Dilihat Mata Hanya Kepulangan

Category: Berita 6 0

305061683Kispa,org – Gaza

Diringi senandung lirik syair kepulangan, seorang pemuda Muhammad Madhi berusia 24 tahun mendekati pagar perbatasan di timur Jalur Gaza dengan sepeda motor, yang sudah dilengkapi dengan speker yang dipasang di punggunngnya, mengelilingi zona isolasi dari utara ke selatan sambil mengibarkan bendera Palesetina. Dia manantang ancaman yang dilontarkan pasukan penjajah Zionis siang dan malam yang mengancam setiap orang Palestina yang mendekati perbatasan.

Sebelum dimulai peluncuran pawai kepulangan rakyat di perbatasan Jalur Gaza, puluhan warga mulai dari laki-laki dan perempuan, anak-anak dan orang tua, sudang berbondong-bondong mendatangi lima titik kumpul yang sudah disiapkan oleh Komite Tinggi Koodrinasi Pawai Hak Kembali di sepanjang perbatasan timur Jalur Gaza.

Meskipun berulang kali penjajah Zionis melontarkan ancaman dan berusaha menyerang sejumlah titik di perbatasan dengan meriam dan tembakan senjata, namun semua itu tidak membuat takut dan ragu orang-orang Palestina untuk mendekati pagar perbatasan untuk menggelar aksi besar di sana.

Meskipun Komite Tinggi Koordinasi Pawai Hak Kembali dengan terang dan jelas menegaskan bahwa aksi ini adalah aksi damai semata, namun penjajah Zionis terus berusaha menyeret warga kepada kekerasan dengan ancaman dan menempatkan para snipernya. Mereka menyerukan pemukim Yahudi di sekitar Jalur Gaza untuk mempersenjatai diri.

Penjajah Zionis juga memperkuat pasukannya di perbatasan Jalur Gaza. Bahkan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel Gadi Eizenkot mengnatakan, “Para tentara akan menembak setiap orang Palestina yang mendekati perbatasan dan menjadi ancaman.”

Dia menambahkan, “Kami telah menempatkan ratusan sniper yang telah kami pilih dari semua kesatuan militer, terutama dari unit sniper. Mereka memiliki izin menembak untuk menghadapi ancaman yang mematikan.”

“Kami haru pulang ke negeri kami bukan harus mati.” Demikian kalimat yang diungkapkan seorang nenek, Hajah Ummu Shafi, kepada Pusat Informasi Palestina, saat ditanya soal aksinya yang mendekati perbatasan timur Jalur Gaza, yang bisa mengancam nyawanya dan nyawa anak cucunya.

Nenek berusia 70-an tahun ini mengenakan pakaian Palestina bersulam dengan selandang putih yang menutupi kepalanya, yang menjadi pakaian khas wanita-wanita Palestina sebelum terjadi Nakbah tahun 1948. Dia menegaskan bahwa dirinya tidak mengkhawatirkan soal nyawa. “Tanah ini sama dengan nyawa. Namun yang ingin kami katakan kepada dunia adalah bahwa kami harus kembali ke negeri kami, kami harus kembali ke tanah kami, dan kami tidak harus memerangi mereka dan mereka tidak harus memerangi kami.”

Namun nyatanya, aksi damai ini berakhir dengan pembantaian yang dilakukan pasukan penjajah Zionis pada Jum’at (30/3/2018) lalu terhadap sejumlah peserta pawai. Sekitar 17 orang peserta pawai gugur dan 1500 lainnya terluka akibat kekerasan yang dilakukan pasukan penjajah Zionis di perbatasan timur Jalur Gaza. (aaa/pip)

Related Articles

Add Comment