Ada Apa di Balik “Provokasi” Militer Israel di Gaza?

Category: Artikel 10 0

Kispa.org – Gaza

Sejak diluncurkan kegiatan pawai kepulangan akbar di Jalur Gaza pada 30 Maret 2018 lalu, penjajah Zionis mulai melakukan eskalasi militer ke Jalur Gaza dengan berbagai macam bentuk. Hal itu dilakukan untuk mencari jalan keluar yang memungkinkannya bisa terbebas dari senjata strategis baru ini yang sukses digunakan orang-orang Palestina secara cerdik di waktu yang kritis.

Dengan semua kegiatan dan perpaduan semua komponen masyarakat Palestina, pawai kepulangan akbar telah sangat mengganggu penjajah Zionis dan menjadi rintangan yang mungkin tidak diperhitungkan sebelumnya. Terutama front Jalur Gaza yang selalu menjadi target agresi penjajah Zionis yang menuntut serangan balik oleh perlawanan Palestina, sehingga bisa terjadi berimbangan teror.

Memancing Reaksi Perlawanan

Belakangan pasukan penjajah Zionis menyerang pos-pos perlawanan Palestina di Jalur Gaza. Hal itu dilakukan bukan untuk merespon serangan roket atau mortir yang dilontarkan dari Jalur Gaza, namun bertujuan untuk memancing reaksi balik dari perlawanan agar bisa memanaskan suasana front Gaza.

Dalam konteks ini, spesialis urusan Zionis, Aiman Rafati, menegaskan bahwa upaya provokasi militer yang dilakukan pasukan penjajah Zionis terhadap perlawanan Palestina bertujuan untuk memancing reaksi yang bisa berakibat memanasnya front di perbatasan Jalur Gaza.

Kepada Pusat Informasi Palestina, Rafati menyatakan bahwa faktor yang mendorong penjajah Zionis untuk tujuan ini adalah “menjadikan arena di Jalur Gaza seperti dalam kondisi bentrokan militer. Dengan demikian pawai kepulangan akbar kehilangan nilai damainya, sehingga memberi banyak alasan bagi militer penjajah Zionis untuk menyerang lebih banyak lagi orang-orang Palestina di perbatasan timur Jalur Gaza.”

Sepakat dengan Rafati, analis politik Shahuddin Awawida menjelaskan bahwa pada tahap sekarang ini penjajah Zionis membutuhkan eskalasi, agar menemukan alasan untuk menggagalkan pawai kepulangan raya dan merubah aksi damai menjadi konfrontasi militer.

Dia menambahkan, “Penjajah Zionis berusaha melucuti senjata empati dari orang-orang Palestina. Yaitu dengan cara menyeret perlawanan ke dalam konfrontasi militer. Hal ini nampak dari banyaknya korban meninggal di kalangan perserta demo damai selama pawai kepulangan. Hal ini dilakukan untuk meneror para peserta damai dan untuk memulihkan pertahanan setelah terjadi penyusupan terakhir serta serangan dan pembakaran alat berat di berbatasan.”

Tekanan Keras

Dengan persiapan orang-orang Palestina di Jalur Gaza untuk ikut dalam pawai kepulangan akbar pada Jum’at ketiga ini, dengan mengusung tema “mengibarkan bendera Palestina dan membakar bendera Israel”, penjajah Zionis masih merasakan tekanan keras.

Rafati mengatakan, “Pawai kepulangan akbar ini menjadi tekanan keras bagi tentara penjajah Zionis di perbatasan Jalur Gaza. Pawai ini menghentikan latihan rutin yang dilakukan pasukan penjajah Zionis untuk pengembangan kemampuan mereka, juga menghentikan proyek pertahanan terpenting terhadap Gaza, berupa tembok bawah tanah.”

Dia menambahkan, “Daerah perbatasan menjadi daerah yang longgar. Penjajah Zionis membutuhkan lebih banyak pasukan untuk melindunginya. Operasi militer dan upaya menyeret perlawanan agar melakukan aksi balasan adalah tujuan untuk mengakhiri pawai kepulangan akbar dan mengakhiri situasi keamanan kompleks yang disebabkan oleh pawai tersebut menurut sudut pandang penjajah Zionis.”

Meskipun menurut Awawida terjadi eskalasi di Jalur Gaza, terutama dengan ancaman Israel yang meninngkat sebagai respon terhadap pawai kepulangan akbar, namun menurut Rafati, perlawanan Palestina menyadari tujuan yang ingin diwujudkan penjajah Zionis. Yaitu berusaha menyeretnya untuk melakukan serangan balasan sebagai perimbangan. Akan tetapi kemungkinan untuk berkembang menjadi perang masih ada bila kedua bertindak lebih eskalatif. (aa/pip)

Related Articles

Add Comment