Kakek Abu Gharara, Ikon “Kepahlawanan” di Perbatasan Tanah Air

Category: Berita 17 0

-494777940Kispa.org – Khanyunis

Potret revolusi belum meninggalkan hatinya. Mimpi untuk kembali masih menjadi kayu bakar dalam jiwanya yang hidup. Jauh dari tanah negerinya, arogansi penjajah dan kepongahan orang-orang asing, semua itu tidak membuatnya kehilangan kekuatan.

Meski usianya sudah lanjut dan punggungnya sudah tidak lagi tegak, hari ini Haji Ahmad Abu Gharara telah menjadi ikon kepahlawanan; dengan sarung tangannya yang putih, berubah menjadi hitam akibat asap ban yang dibakar, dengan ikat kepala hitam yang dikenakan dengan penuh kebanggaan, dengan tekadnya yang menjadikan dia terdepan di antara para revolusioner; dengan jenggot putihnya yang menunjukkan tanda-tanda penuaan.

Pada Jum’at kedua pawai kepulangan akbar di perkemahan pawai di timur Khanyunis, wilayah selatan Jalur Gaza, nampak kepribadiannya. Dia memimpin para pemuda di dekat pagar perbatasan, berada di barisan terdepan dan berteriak takbir yang menggema di seluruh lokasi.

Berjalan Kaki

Dengan berjalan kaki, Haji Abu Gharara berangkat dari rumahnya di daerah Main yang berjarak beberapa kilometer dari kota Khuza’ah, yang mana di perbatasan timur kota ini didirikan perkemahan pawai kepulangan akbar.

Mimpi untuk kembali pulang ke kampung kelahirannya di Kafer Anah masih memikat hati dan jiwa Abu Gharara. Terlebih dia diusir dari sana pada saat usianya kala itu sekitar 5 tahun.

Bagitu para pemuda revolusioner mulai membakar ban-ban mobil dalam aksi yang dikenal dengan “Jum’at Ban”, semangat datang dalam hati kakek berusia 70-an tahun ini. Dia bertolak layaknya singa di tengah-tengah kawanan.

Tidak lama kemudian dia sampai di pagar kawat, dia mulai memotongnya. Kemudian dia berpindah ke pagar kawat kedua bersama para pemuda yang menunjukkan keberanian yang tak tertandingni.

Pemilik Hak

Ketika ditanya, apa alasan yang mendorongnya berada di depan dan memotong pagar kawat perbatasan, meski usianya sudah lanjut? Kepada Pusat Informasi Palestina dia mengatakan, “Saat saya menyaksikan para pemuda berbondong-bondong ke perbatasan memimpikan kembali ke rumah kakek nenek mereka, saya teringat bahwa saya adalah pemilik hak. Saya adalah orang yang harus berjuang untuk negerinya karena mereka (penjajah) telah mengusir saya dari desa dan tanah air saya.”

Abu Gharara muncul dengan semangat dan antusias setelah mengingat dendam lamanya yang tidak pernah dilupakan, ketika para tentara penjajah Zionis membunuh kakeknya dalam satu pertempuran saat dia masih kecil. Dia menegaskan bahwa dia tidak akan melupakan luka yang ditinggalkan penjajah Zionis ini, dia berjanji akan melakukan balas dendam.

Dia menambahkan, “Orang-orang Yahudi mengambil tanah dan orang tua saya. Mereka menghalangi kami ke tanah kami. Saya bergerak bersama para pemuda agar saya bisa kembali dan pulang ke negeri saya yang dirampas.” Dia teringat Pabrik Sponge milik ayahnya di Kafer Anah.

Kakek 70-an tahun ini menyatakan bahwa dia terkena bom gas yang menghantam tanah dan kemudian ke wajahnya. Dia bersyukur, Tuhan Yang Maha Kuasa menyelamatkannya dari ledakan bom tersebut.

Dia menggambarkan para tentara penjajah Zionis adalah para pengecut. “Demi Allah, jika kita bersatu, kita bisa membebaskan negara ini dari orang-orang Yahudi yang marah, karena saya melihat ketakutan di mata mereka ketika saya mendekati mereka,” ungkapnya. (aa/was/pip)

Related Articles

Add Comment