Israel Ubah Respon Hadapi Gerakan Kepulangan, Kenapa?

Category: Artikel 9 0

253508497Kispa.org

Shalah Na’ami

“Israel” sengaja menggunakan taktik keamanan yang bertujuan untuk mengurangi jumlah para korban yang gugur dan terluka di kalangan warga Palestina yang terlibat dalam aksi pawai kepulangan akbar, sebagai upaya untuk mencegah lebih lanjut tergerogotinya status internasionalnya dan agar tidak membiarkan pecahnya konfrontasi yang mengurangi kemampuannya untuk mengatasi kehadiran Iran di Suriah, dalam konteks tidak mempengaruhi upaya Washington untuk menyediakan lingkungan regional dan internasional yang akan turut meningkatkan kemampuan Amerika Serikat untuk menerapkan strateginya terhadap proyek nuklir Teheran.

Semua indikasi menunjukkan bahwa meskipun jumlah peserta cukup besar dalam demonstrasi yang diselenggarakan dalam kegiatan “Aksi Sejuta Umat untuk al-Quds, yang degelar Jumat lalu, dan meskipun massa manusia sangat besar mengalir ke tembok perbatasan di sepanjang perbatasan dengan Jalur Gaza, namun pasukan penjajah Zionis mengurangi penggunaan peluru organik dalam menghadapi demonstrasi-demonstrasi ini. Ini yang menyebabkan jumlah warga yang gugur dan terluka relatif lebih sedikit dibandingkan dengan aksi sebelumnya. Hanya tiga warga yang gugur, sedangkan jumlah warga yang luka serius hanya delapan orang.

Alih-alih memperluas penggunaan peluru organik, militer penjajah Zionis justru hanya menggunakan gas air mata yang hanya berdampak pada syaraf dan pernafasan. Militer Zionis sengaja menggabungkan antara intensifikasi penggunaan gas dan penerapan teknik dalam menembakkan gas yang bisa mengurangi kemampuan demonstran untuk memadamkannya. Ini membuktikan bahwa militer penjajah Israel telah merencanakan untuk menggunakan cara-cara yang digunakan untuk membubarkan para demonstran guna mewujudkan tujuan politik dan propaganda secara khusus. Faktanya adalah bahwa militer Zionis sengaja memberikan kesempatan keapda wartawan asing untuk melakukan liputan langsung konfrontasi dengan para demonstran dengan menggunakan pesawat yang mereka dari atas di lima kamp pawai kepulangan di sepanjang perbatasan timur Jalur Gaza.

Tur Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Eropa minggu lalu, mencakup Jerman, Prancis dan Inggris, turut membantu mendorong Tel Aviv untuk mengadopsi taktik baru. Netanyahu, yang melakukan perjalanan ke Berlin, Paris dan London untuk menggalang dukungan bagi posisi Tel Aviv pada kehadiran Iran di Suriah, terkejut bahwa para pemimpin Eropa telah berinisiatif untuk mengusulkan agar pembunuhan yang dilakukan tentara Israel terhadap mereka yang terlibat dalam gerakan pawai kepulangan termasuk di antara isu-isu yang dibahas dalam pertemuan-pertemuan ini.

Menteri Luar Negeri Inggris, Boris Johnson, meminta Netanyahu membentuk komite untuk menyelidiki pembunuhan para demonstran di Jalur Gaza. Dan untuk menghadapi kritik dari pemerintah dan media Prancis, militer penjajah Zionis memutuskan untuk mengirim juru bicaranya Ronin Melnis ke Paris, untuk berbicara kepada parlemen Prancis guna menjelaskan kebijakan yang ditempuh oleh militer Zionis dalam menghadapi gerakan kepulangan.

Pada saat lingkaran pengambilan keputusan politik dan lembaga keamanan Tel Aviv melihat bahwa ancaman yang berasal dari kehadiran Iran di Suriah “jauh lebih berbahaya daripada apa yang terjadi di Gaza dan aksi pawai kepulangan, Israel sengaja telah merancang kebijakannya terhadap gerakan kepulangan ini agar tidak berdampak negatif pada kemampuannya untuk mengamankan dukungan Barat untuk kebijakannya terhadap Suriah, terutama di tengah-tengah adanya indikasi perbedaan antara Moskow dan Tel Aviv pada kehadiran Iran di sana.

Di sisi lain, perubahan taktik yang digunakan Israel untuk menghadapi gerakan kepulangan mungkin terkait dengan inisiatif Israel dan internasional yang bertujuan untuk mencapai gencatan senjata berdasarkan peningkatan kondisi ekonomi dan kemanusiaan di Jalur Gaza sebagai imbalan untuk menghentikan perlawanan di Jalur Gaza dan operasinya yang menarget Israel.

Pada hari Ahad (10/6/2018), kabinet kecil Israel mengadakan pertemuan khusus untuk membahas dua rencana untuk memperbaiki situasi di Gaza, salah satunya dirumuskan oleh utusan PBB Nikolai Mladenov dan bertujuan membuka pabrik dan infrastruktur untuk membantu Jalur Gaza, di dalam Sinai dan di Jalur Gaza sendiri. Rencana kedua disusun oleh Menteri Intelijen dan Transportasi Israel, Yisrael Katz, dan akan membangun pelabuhan mengambang di lepas pantai Gaza serta membangun infrastruktur di Jalur Gaza.

Di sisi lain, perubahan respon pola keamanan dalam menghadapi gerakan kepulangan juga terkait dengan keyakinan mendalam dari lembaga keamanan Israel secara khusus, yang intinya tidak ada respon militer yang dapat menyebabkan meningkatnya gerakan ini, terutama di tengah-tengah meningkatnya gerakan ini dan bertambahnya pengaruh negatif gerakan ini pada masayarakat sipil Israel, termasuk kerugian besar yang dialami permukiman-permukiman Yahudi di sekitar Jalur Gaza akibat penggunaan layang-layang api.

Ini dibuktikan dengan pola respon yang dilakukan pada hari Jumat saat mengadapi aksi sejuta umat untuk al-Quds. Di mana level militer mampu meyakinkan level politik di Tel Aviv, dengan sikapnya yang mendukung untuk tidak melakukan langkah-langkah yang bisa menimbulkan ledakan konfrontasi menyeluruh dengan Hamas. Meskipun pada Jumat itu terjadi peluncuran layang-layang api dalam jumlah terbesar, namun pola menghadapinya tidak seperti biasanya, tidak peduli dengan seruan para menteri pemerintah Israel agar menghabisi orang-orang yang menerbangkan layang-layang dari Jalur Gaza ke arah wilayah yang diduduki penjajah Zionis. (aa/was/pip)

Related Articles

Add Comment