Apa Tujuan Israel Relokasi Warga Badui al-Quds dan Lembah Yordan?

Category: Artikel 8 0

-715323425Kispa.org – Al-Quds

Meski mendapatkan kecaman internasional dari Amerika dan lembaga-lembaga HAM, penjajah Zionis Israel tetap gigih terus melakukan kejahatan merelokasi 46 kominitas badui Palestina di al-Quds dan wilayah zona “c” (yang secara administratif dan militer di bawah kontrol penjajah Zionis) di Tepi Barat dan khususnya di Lembah Yordan Palestina, untuk apa? Dan apa tujuan di balik kebijakan ini?

Sebelumnya otoritas penjajah Zionis sudah mulai mengusir penduduk dan meneportasi mereka dari perbatasan kota al-Quds dengan menggunakan pasukan dalam jumlah besar. Mereka menyerang dan memukuli para aktivis, relawan kemanusiaan dan warga, sebelum akhirnya pengadilan Zionis pada Kamis (5/7/2018) mengeluarkan putusan pembekuan sementara proses penghancuran sampai ada penjelasan alasan otoritas penjajah Zionis tidak mengizinkan izin kominitas tersebut.

Otoritas penjajah Zionis berusaha membongkar 45 rumah Palestina setelah keputusan pengadilan pada 25 Mei lalu. Sebanyak 250 warga badui Palestina tinggal di rumah-rumah yang bertebaran di kaki bukit yang gersang. Di saat yang sama penjajah Zionis terus melakukan kebijakan mencegah orang-orang badui Palestina menanam pohon, menambahkan fasilitas apa pun yang dapat menghidupkan kembali kehidupan di bukit tersebut, atau bahkan sekedar membangun rumah. Hal ini yang membuat mereka akhirnya tinggal di rumah-rumah seng yang nyaris tidak bisa melindungi mereka di musim panas dan di musim dingin.

Dua tujuan yang membantu mimpi Israel

Pakar pemukiman dan Kepala Departemen Peta di Lembaga Studi Arab, Khalil Tafkaji, mengatakan, “Kegigihan penjajah Israel mengusir dan merelokasi warga badui dari perkampungan badui al-Quds dan Lembah Yordan memiliki dua tujuan utama: tujuan lokal untuk melaksanakan proyek Yerusalem tahun 2050 yang disebut dengan “Proyek 5800”.

Dia menjelaskan bahwa proyek ini adalah untuk membangun bandara terbesar di “Israel” di daerah Nabi Musa untuk menampung 35 juta penumpang dan 12 juta wisatawan, serta membangun jaringan jalan-jalan, rel kereta api, kawasan industri dan bisnis dan pariwisata yang terdiri dari sejumlah hotel. Dia menyatakan bahwa kawasan ini akan terhubung dengan wisata terapeutik di Laut Mati dan wisata religius di kota al-Quds atau Yerusalem.

Dalam perbindangan dengan Pusat Informasi Palestina Tafkaji mengatakan bahwa proyek ini merupakan bagian dari proyek yang disebut dengan “Yerusalem Raya” menurut konsep “Israel”, dan tidak boleh ada apapun yang namanya entitas atau negara Palestina yang didirikan dengan ibukota al-Quds Timur.

Tujuan kedua adalah tujuan regional. Karena penjajah Zionis “Israel” melihat dirinya sebagai titik yang menghubungkan antara Eropa dan Timur Tengah. Hal ini menuntut pembukaan jembatan “Raja Abdullah” yang saat ini ditutup, untuk menghubungkan “Israel” (wilayah Palestina yang diduduki Israel sejak tahun 1948) dengan Yordania dan negara-negara lain di kawasan itu di sebelah timur.

Dia mengingatkan bahwa pada awal tahun 2019 akan dibuka bagian yang menghubungkan daerah pesisir Jaffa dan Yerusalem. Dan pada akhir proyek akan dibuka kawasan “Nabi Musa”, Lembah Yordan dan bandara yang hendak dibangun. Untuk diketahui bahwa bagian utara proyek ini dibuka antara Haifa dan wilayah Besan, yang meluas ke Yordania dan negara-negara tetangga. Bisan – Haifa adalah jalur rel kereta dan kawasan industri yang dalam waktu 18 bulan akan siap. (aa/was/pip)

Related Articles

Add Comment