Tentang Kispa

Meski begitu masalah mengenai Palestina, keidentitasan Islam, serta pelakunya yang merupakan masyarakat sosial Indonesia menjadi menarik untuk diteliti. Penelitian ini dibingkai dalam penelitian gerakan solidaritas kepada rakyat Palestina oleh organisasi- organisasi Islam di Indonesia. Semua itu dibingkai dalam pengerucutan fenomena
berdirinya KISPA yang dibidani oleh MUI dan didukung oleh beberapa organisasi- organisasi tersebut sehingga menjadi sebuah gerakan Islam (Islamic Activism).

Pembahasan

KISPA didirikan pada tanggal 14 Mei 2002 atau 1 Rabi’ul Awwal 1423 Hijriyah di
kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang dibidani oleh MUI beserta 20 organisasi
masyarakat (Ormas) Islam, yakni:
1. Muhammadiyah
2. DDII (Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia)
3. KISDI (Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam)
4. GPMI (Gerakan Persaudaraan Muslim Indonesia)
5. FPI (Front Pembela Islam)
6. COMES (Center of Middle East Studies)
7. KKPA (Komite Keadilan untuk Pembelaan Al-Aqsha)
8. Daarut Tauhid
9. DATA (Darut Tarbiyah)
10. Majelis Az-Zikra
11. MAI (Mitsaq Amal Islami)
12. LPPD Khairu Ummah
13.HAMMAS (Himpunan Mahasiswa Muslim Antar Kampus)
14. KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia)
15. NCR (Nada Cipta Raya)
16. SALIMAH
17. Forum Silaturrahmi LDK
18. Kharisma Risalah
19. IKADI (Ikatan Dai Indonesia)
20. GAZA (Gerakan Anti Zionis Israel)
Ke-dua-puluh ormas Islam serta MUI ini memiliki tujuan nilai yang sama yakni membantu perjuangan rakyat Palestina serta memperjuangkan kebebasan Al-Aqsha dari cengkraman kotor Zionis Israel dan diaktualisasikan ke dalam wadah yang bernama KISPA ini. Hal tersebut tentu memiliki dasar, dan dasar yang digunakan oleh mereka
dalam pembentukan KISPA adalah Qs. Al Isra khususnya ayat 1 yang berbunyi:

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Ayat tersebut menjadi tonggak baik dalam pembentukan KISPA hingga perjuangan berkembangnya KISPA selama ini. Selain itu pembentukan KISPA juga diwujudkan sebagai pelaksanaan amanah konstitusi yaitu pembukaan UUD 1945 yang menegaskan bahwa bangsa Indonesia anti terhadap segala bentuk penjajahan, oleh karena itu penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusian dan perikeadilan. Kemudian, sebaiknya umat Islam Indonesia mengambil sikap sebagai bentuk pembelaan terhadap Palestina yang dilandasi oleh upaya untuk menjaga kemuliaan Masjid Al-Aqsha yang menjadi tempat pemberangkatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad dari “cengkraman tangan kotor” Zionis Israel yang akan menghancurkan Masjid Al-Aqsha dengan cara membangun sinagog. Saat pertama berdirinya, KISPA diketuai oleh Din Syamsudin dan Adian Husaini sebagai sekertaris jendral. Perlu diketahui Din Syamsudin merupakan penggagas dari berdirinya KISPA ini adalah wakil ketua umum PP Muhammadiyah dan juga menjabat sebagai sekertaris umum Majelis Ulama Indonesia pada saat itu. Namun, dikarenakan adanya berbagai kesibukan dan halangan Adian Husaini mengundurkan diri pada tahun 2002 yaitu pada tahun yang sama di mana KISPA dibentuk. Penggantian kekosongan jabatan sekertaris jendral itu sebenarnya telah dilakukan pada tahun 2002 itu juga, namun secara resmi penggantian tersebut dilakukan pada tahun 2004 di mana penggantian
kepengurusan harus sesuai dengan periode masa jabatan dan sebagai ketua masih dijabat oleh Din Syamsudin sementara sekertaris jendral berpindah jabatan kepada Ferry Nur. Pada tahun 2006 dikarenakan Din Syamsudin memiliki banyak kesibukan akhirnya beliau mengundurkan diri sebagai ketua KISPA dan seluruh tugas dan kegiatan periode 2004- 2009 dilaksanakan oleh Ust Ferry Nur. Pada periode selanjutnya yakni masa kepengurusan
2009-2014 KISPA dipimpin oleh Ferry Nur. Dan pada kepengurusan 2014-2019 Ferry Nur terpilih lagi menjadi ketua KISPA hingga saat tulisan ini dibuat. Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina atau disingkat KISPA merupakan organisasi masyarakat yang didirikan sebagai pernyataan sikap masyarakat Indonesia pada umumnya dan khususnya masyarakat Islam Indonesia yang dinahkodai oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) atas terjadinya Konflik Israel-Palestina yang telah terjadi berlarut-larut selama berpuluh-puluh tahun. Konflik tersebut setidaknya memakan kerugian yang sangat besar, baik secara korban jiwa maupun materil. Namun, atas apa yang terjadi dalam konflik tersebut banyak kerugian yang lebih diderita oleh rakyat Palestina. Mulai dari tanah air mereka yang direbut oleh Israel sejak eksodus besar-besaran kaum Zionis Israel sejak tahun 1948, hingga sanak saudara yang menjadi korban, atau bahkan hilangnya nyawa mereka sendiri akibat serangan-serangan yang dilakukan oleh masyarakat sipil Israel ataupun serangan seporadis yang dirangkai dalam operasi militer. KISPA, dalam memperjuangkan Palestina dan tentunya menjalankan aktivitas organisasinya KISPA juga memiliki visi dan misi. KISPA memiliki visi yaitu: “Membangkitkan semangat rakyat Indonesia untuk peduli terhadap perjuangan rakyat
Palestina meraih kemerdekaan, khususnya dalam menjaga kesucian Masjid Al-Aqsha”.
Dalam visi yang diperjuangkan oleh KISPA tersebut setidaknya terdapat empat syarat,
yaitu:

1. Mencakup segala hal dan berani menekankan hasil yang luar biasa ketimbang hanya hasil yang bertahap
2. Menciptakan rasa kekuatan, semangat dan komitmen ketimbang kegelisahan, kepanikan dan intimidasi.
3. Realistis dan dapat dicapai, diperlukan sebagai pedoman bagi semua aktifitas organisasi.
4. Spesifik dan harus dinyatakan dengan keyakinan, sebab visi adalah artikulasi dari citra, nilai, arah dan tujuan yang akan memandu masa depan organisasi. Sedangkan misi KISPA merupakan segala kegiatan yang dimaksudkan untuk menunjang segala tujuan dari visi KISPA sendiri yakni “Membangkitkan semangat rakyat Indonesia untuk peduli terhadap perjuangan rakyat Palestina meraih kemerdekaan, khususnya dalam menjaga kesucian Masjid Al-Aqsha”. Misi KISPA tersebut antara lain,
yaitu:
1. Membantu perjuangan bangsa Palestina untuk bebas dari penjajahan Zionis Israel
dalam bentuk moril maupun materiil.
2. Menanamkan serta membangun Ukhuwah Islamiyah rakyat Indonesia terhadap
saudara-saudaranya di Palestina.
3. Membantu penyebaran informasi terhadap kondisi rakyat Palestina dan Masjid Al- Aqsha.
4. Melakukan advokasi terhadap permasalahan rakyat Palestina.

Struktur Kepengurusan KISPA Periode 2014-2019

Dewan Pertimbangan

1. KH. Abdul Rasyid Abdullah Syafi’ie
2. KH. Syuhada Bahri
3. KH. Syaifuddin Amsir
4. Dr. Adian Husaini, MA
5. Ust. Muhammad Arifin Ilham
6. Dr. Muhammad Noer
7. Drs. H. Almuzzammil Yusuf
8. Mashadi
9. Kasum Musyafa

Badan Pengurus Harian

Ketua : Ferry Nur, S.Si
Sekjen : Andi Saefuddin, SE
Wasekjen : H. M Parisman, BSC
Bendahara : H. Dasrial, SE
Wakil Bendahara : Nurdin
Bidang-Bidang

1. Bidang Da’wah dan Diklat:
H. Muhendri Muchtar Birk Horns
Drs. H. Hafizh Efendy, Lucky Kusuma
Danny Saptyadi
M. Mulkiat Muttaqin
H. Ahmad Dalil

2. Bidang Amal Usaha:
H. Anton
Irfandi
M. Alauddin
Subandi Setiahardi
Abdul Rahman Hifdi

3. Bidang Advokasi:
Adang Hidayat
Deni Susandi
Muhadis
Abdul Aziz Hasbi

4. Bidang Humas:
Agus Daroesman
Rizki Rustam
Harjito Warno
Eka Kurniawan
Musab
Asad Abdulkadir Alkatiri
Muhammad Rif’at
Faru

To Top